Penelit BRINi: Penurunan muka tanah tingkatkan risiko banjir rob

Peneliti ahli utama di Pusat Riset dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin mengatakan penurunan muka tanah di wilayah pantai meningkatkan risiko banjir rob di daerah pesisir yang landai.

"Penurunan muka tanah ini berpotensi meningkatkan banjir rob," kata Thomas dalam Webinar Lesson Learned: Banjir Rob di Musim Kemarau yang diadakan oleh Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, yang dipantau secara virtual di Jakarta, Kamis.

Thomas menuturkan ada beberapa faktor yang perlu diwaspadai terkait kenaikan muka laut yakni efek pemanasan global, efek siklus nodal bulan yang menyebabkan pasang air laut, dan penurunan muka tanah.

Ia mengatakan khusus untuk wilayah Pantai Utara Jawa, faktor penurunan muka tanah menjadi faktor yang lebih meningkatkan potensi kenaikan muka laut dibandingkan karena efek pemanasan global dan siklus nodal.

Baca juga: Perubahan iklim dan penurunan muka tanah picu banjir di Jawa Tengah

Baca juga: Bappenas: Penyediaan pasokan air kendalikan penurunan muka tanah

Menurut dia, sebagai efek pemanasan global, es di kutub dan di gunung-gunung es akan mencair dan juga memuainya air laut akan menyebabkan permukaan air laut secara rata-rata global akan naik, sehingga pulau-pulau kecil dan pantai yang landai berpotensi untuk tergenangi.

Thomas menuturkan kajian yang telah dilakukan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), yang sekarang sudah terintegrasi ke BRIN, dengan menggunakan data-data satelit radar apertur sintetis (synthetic-aperture radar), menunjukkan penurunan muka tanah dari pantai-pantai di wilayah Pantai Utara Jawa cukup tinggi.

Untuk Semarang dan sekitarnya, laju rata-rata penurunan permukaan tanah selama periode 2015-2020 adalah 0,9-6 cm per tahun.

Baca juga: BRIN: Penurunan muka tanah penyebab utama potensi Jakarta tenggelam

Baca juga: BRIN: Hindari pembangunan masif utara Jakarta cegah potensi tenggelam

Pada perhitungan yang dilakukan Lapan, penurunan muka tanah tertinggi terjadi di Kota Pekalongan dengan kisaran 2,1-11 cm per tahun.

Laju rata-rata penurunan muka tanah di DKI Jakarta berkisar 0,1-8 cm per tahun, Kota Bandung berkisar 0,1-4,3 cm per tahun, Kota Cirebon berkisar 0,28-4 cm per tahun, dan Kota Surabaya berkisar antara 0,3-4,3 cm per tahun.

Thomas menekankan bahwa penurunan muka tanah tersebut perlu diwaspadai karena bisa meningkatkan risiko banjir rob.

"Perlu dilakukan mitigasi jangka panjang untuk mengantisipasi pemanasan global dan penurunan muka tanah wilayah pantai yang berpotensi makin sering banjir rob dan makin tinggi genangannya," katanya.

Baca juga: Peneliti: Muka tanah turun dan air laut naik percepat Jakarta terendam

Baca juga: Peneliti: Penurunan muka tanah perparah dampak kenaikan muka air laut

Baca juga: Anies klaim titik penurunan muka tanah berkurang

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel