Peneliti BRIN identifikasi tumbuhan paku jenis baru di Papua Nugini

·Bacaan 2 menit

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi tumbuhan paku jenis baru, Deparia stellata, yang tumbuh di pedalaman hutan Pegunungan Bintang, Papua Nugini.

Peneliti Pusat Riset Biologi BRIN Wita Wardani dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Kamis, mengatakan penemuan jenis baru itu menambah informasi variasi dan inventarisasi jenis tumbuhan paku (pteridofita), khususnya di wilayah fitogeografi Malesia.

"Kunci penemuan ini adalah kesediaan herbarium Natural History Museum London (BM) meminjamkan spesimennya. Spesimen ini saya temukan saat berkunjung ke herbarium tersebut untuk memeriksa tumpukan spesimen yang belum teridentifikasi di tahun 2016," kata Wita.

Baca juga: BRIN permudah mekanisme dan skema kolaborasi penelitian

Wita bersama tim mampu mengidentifikasi tumbuhan pteridofita jenis baru tersebut berdasarkan spesimen yang dikoleksi oleh WR Barker dalam Ekspedisi Pegunungan Bintang tahun 1975.

Ekspedisi tersebut merupakan perjalanan eksplorasi botani kolaboratif antara Rijksherbarium Belanda dengan herbarium nasional Papua Nugini.

Wita yang merupakan peneliti bidang botani menuturkan secara sepintas tutupan permukaan tangkai dan rakis daun jenis baru itu tampak berbeda.

Melalui pengamatan mikroskop berdaya pembesaran tinggi di Herbarium Bogor, akhirnya Wita mengonfirmasi kebaruan spesimen tersebut yang diterbitkan dalam jurnal Reinwardtia pada 6 Desember 2021.

Baca juga: SGU dan BRIN bahas protokol penelitian berbasis keanekaragaman hayati

Setelah pengamatan dengan mikroskop, ciri khas jenis baru itu teramati dengan lebih jelas, baik variasi bentuk, ukuran dan posisinya terhadap ciri yang lain.

"Sebelumnya, rambut-rambut bintang berwarna gelap kemerahan yang menyelimuti rakis dan kosta (tulang daun) tidak pernah ditemukan pada jenis Deparia. Demikian pula sisik dengan tepian berambut tak beraturan. Ciri ini tidak biasa bagi marga ini," ujar Wita.

Namun rambut-rambut bintang yang serupa teramati pula pada Diplazium stellatopilosum, jenis dari marga yang berbeda namun masih dari suku yang sama yang juga ditemukan di wilayah Papua Nugini.

Perbedaan Deparia dan Diplazium dapat dilihat dari parit pada kosta yang tidak menerus pada Deparia, namun kebalikannya pada Diplazium.

"Karakter rambut bintang diperkirakan sebagai ciri khas jenis dari daratan Papua, khususnya di bagian timur, namun perlu dilakukan kajian yang lebih menyeluruh untuk memastikannya,” tutur Wita.


Baca juga: 28 unit penelitian dan pengembangan K/L resmi diintegrasikan ke BRIN

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel