Peneliti Filipina Jadi Pemburu Virus Kelelawar, Cegah Pandemi Berikutnya

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Para peneliti di Universitas Filipina Los Banos di provinsi Laguna telah melakukan perjalanan hari demi hari melalui hutan hujan lebat, menangkap ribuan kelelawar untuk mengekstrak DNA sebelum melepaskannya kembali ke alam liar.

Melansir dari Mashable, Sabtu (27/3/2021), penelitian yang didanai Jepang ini bertujuan untuk membuat model simulasi yang akan membantu memprediksi dan mencegah pandemi lain yang mirip dengan COVID-19.

Para peneliti ini menyebut diri mereka adalah 'pemburu virus', yang berharap kelelawar dapat membantu mereka mencari tahu apa yang mempengaruhi datangnya pandemi.

Ini kemudian akan membantu mereka menemukan cara untuk mengambil tindakan pencegahan, bukan tindakan reaktif.

Faktor-faktor seperti iklim, suhu, dan kecepatan penularan (termasuk hewan ke manusia) juga akan dipelajari.

"Apa yang kami coba lihat adalah jenis lain dari virus corona yang berpotensi melompat ke manusia," kata ahli ekologi Phillip Alviola, yang telah mempelajari virus kelelawar selama lebih dari satu dekade.

"Jika kami mengetahui virus itu sendiri dan kami tahu dari mana asalnya, kami tahu cara mengisolasi virus itu secara geografis. Banyak pekerjaan yang membutuhkan perjalanan panjang, melelahkan, dan berbahaya ke hutan hujan, seringkali di kegelapan malam," tambahnya.

**Ibadah Ramadan makin khusyuk dengan ayat-ayat ini.

Tak Semudah yang Terlihat

Ilustrasi kelelawar yang dianggap menjadi penyebab penyebaran virus corona. (dok. Jochemy/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)
Ilustrasi kelelawar yang dianggap menjadi penyebab penyebaran virus corona. (dok. Jochemy/Pixabay/Tri Ayu Lutfiani)

Namun, para pemburu virus juga menargetkan kelelawar yang bertengger di gedung dengan memasang jaring kabut khusus yang 'tidak terlihat' cukup untuk mereka tangkap.

Seperti pendakian hutan hujan, hal ini sering terjadi saat matahari terbenam dan dari perspektif orang luar mungkin saja keseluruhan proses terlihat sederhana.

Para peneliti menangkap kelelawar mereka, mendapatkan sampel DNA melalui penyeka materi oral dan feses, dan menganalisis temuan mereka di laboratorium.

Targetnya adalah menemukan virus korona yang mirip dengan COVID-19, jika ada.

Seperti tugas terkait patogen lainnya, setiap orang harus mengambil tindakan pencegahan khusus untuk memastikan beberapa virus yang tidak dikenal di kelelawar yang mereka tangkap tidak ditularkan kepada mereka.

"Hari-hari ini sangat menakutkan," kata asisten penelitian Edison Cosico. "Anda tidak pernah tahu apakah kelelawar sudah menjadi pembawa virus atau tidak."

Dan tidak sesederhana melihat kelelawar yang terlihat sakit, spesies inang seperti kelelawar tidak menunjukkan gejala virus apa pun jika mereka membawa virus.

Menurut ahli ekologi kelelawar Kirk Taray, ketika kedekatan manusia dan hewan semakin dekat, terutama karena kelelawar terus merambah habitat liar, risiko penularan dari hewan ke manusia juga meningkat.

"Dengan memiliki data dasar tentang sifat dan kemunculan virus yang berpotensi zoonosis pada kelelawar, entah bagaimana kami dapat memprediksi kemungkinan wabah." Kata Kirk taray.

"Virus seperti Ebola, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS) semuanya telah dikaitkan dengan kelelawar," sambungnya.

Reporter: Veronica Gita

Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker?

Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker? (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Akar Bajakah dari Kalimantan Bisa Sembuhkan Kanker? (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Berikut Ini: