Peneliti Jepang Kembangkan Konsep Perkotaan Baru untuk Tekan Emisi Karbon Dioksida

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Area perkotaan telah menjadi salah satu fokus upaya mitigasi iklim global. Mereka berkontribusi atas 60-70 persen emisi karbon dioksida terkait energi.

Di tengah situasi ini, para peneliti menilai penting untuk mengidentifikasi opsi hemat biaya untuk mengurangi emisi karbon dioksida dan meningkatkan ketahanan area perkotaan. Gagasan ini juga diharapkan akan dapat menjamin kesejahteraan para penghuni area perkotaan.

Berpijak dari hal itu, para peneliti pun mengembangkan konsep "SolarEV City". Di dalam konsep ini panel surya fotovoltaik di atap-atap pemukiman dan kendaraan listrik (EV) yang terintegrasi memasok listrik bebas karbon dioksida yang terjangkau dan dapat dialirkan ke penduduk.

"Kami melakukan analisis teknoekonomi untuk mengevaluasi konsep tersebut dalam hal pengurangan emisi karbon dioksida, penghematan biaya, kecukupan energi, swasembada, serta konsumsi sendiri untuk sembilan wilayah perkotaan Jepang," tutur salah seorang peneliti di National Institute for Environmental Studies, Tsukuba, Ibaraki, Jepang, Dr. Takuro Kobashi dalam rilis pers via Eurekalert.

Kota-kota tersebut meliputi Kyoto, Hiroshima, Korimaya, Okayama, Sapporo, Sendai, Niigata, Kawasaki, dan Tokyo.

Hasil analisis

"Analisis kami menunjukkan bahwa penerapan konsep ini akan dapat memenuhi 53-95 persen kebutuhan listrik di sembilan wilayah perkotaan utama Jepang tersebut pada tahun 2030 dengan penggunaan 70 persen atap-atap pemukiman di perkotaan," kata Kobashi lebih lanjut.

Emisi karbon dioksida dari penggunaan kendaraan dan pembangkit listrik di wilayah ini dapat dikurangi hingga 54-95 persen dengan potensi penghematan biaya sebesar 26-41 persen.

Efektivitas biaya yang tinggi dan insolasi yang stabil secara musiman di lintang rendah boleh jadi merupakan petunjuk bahwa konsep tersebut akan lebih efektif untuk mendekarbonisasi lingkungan perkotaan di negara berkembang di lintang rendah.

Perlu peran pemerintah

Di antara beberapa faktor, intervensi pemerintah disebut akan berperan penting dalam mewujudkan sistem tersebut, terutama dalam peraturan perundang-undangan yang meningkatkan penetrasi sistem panel surya fotovoltaik dan kendaraan listrik terintegrasi dan memungkinkan pembentukan sistem tenaga terdesentralisasi.

"Karena proses dari bawah ke atas sangat penting, pembuat kebijakan, komunitas, industri, dan peneliti harus bekerja sama untuk membangun sistem seperti itu untuk mengatasi hambatan sosial dan peraturan," ujar Kobashi.