Peneliti Kaspersky sebut Pengguna Mobile Banking Jadi Incaran Dibobol Hacker

Merdeka.com - Merdeka.com - Dengan terus meningkatnya adopsi mobile banking di Asia Pasifik (APAC), Kaspersky memperingatkan akan lebih banyak serangan terhadap perangkat Android dan iOS. Khususnya, pemantauan aktif menunjukkan Trojan Anubis yang terkenal kini memberikan kombinasi Trojan mobile banking dengan fungsionalitas ransomware ke ponsel cerdas targetnya.

Suguru Ishimaru, peneliti dari Kaspersky mengatakan, Trojan mobile banking adalah salah satu spesies paling berbahaya di dunia malware. Jenis ancaman ini mencuri uang dari rekening bank pengguna ponsel biasanya dengan cara menyamarkan Trojan sebagai aplikasi resmi untuk memikat orang agar menginstal malware.

"Anubis adalah Trojan mobile banking yang menargetkan pengguna Android sejak 2017. Kampanyenya di seluruh dunia menargetkan pengguna dari Rusia, Turki, India, Cina, Kolombia, Prancis, Jerman, Amerika Serikat, Denmark, dan Vietnam," ujar Suguru dalam keterangannya, Kamis (1/9).

Berdasarkan catatannya, keluarga malware ini terus menjadi salah satu bankir seluler paling umum. Dalam periode ini, satu dari 10 (10,48 persen) pengguna unik Kaspersky secara global yang mengalami ancaman perbankan telah berhadapan dengan Trojan perbankan seluler Anubis.

"Infeksi awal dilakukan melalui berbagai cara – aplikasi yang tampak resmi dan bereputasi tinggi tetapi berbahaya tersedia di Google Play, smishing (pesan phishing yang dikirim melalui SMS), dan malware Bian, Trojan mobile banking lainnya," ungkap dia.

Setelah masuk, bankir seluler terkenal ini dapat melakukan pengambilalihan perangkat secara lengkap. Itu mulai dari mencuri informasi dan identitas pribadi, mengakses pesan pribadi dan kredensial masuk, merekam suara, meminta GPS, menonaktifkan play protect, mengunci layar perangkat, dan masih banyak lagi.

"Jika modifikasi ini terbukti berhasil, kemungkinan kelompok berbahaya lainnya akan menyalin teknik yang sama untuk mencuri data dan menyandera perangkat. Akibatnya, saya melihat akan lebih banyak serangan semacam itu di Asia Pasifik karena motivasi finansial yang kuat dari para penjahat dunia maya," kata dia. [faz]