Peneliti : Keputusan salah industri berisiko sebabkan PHK

Peneliti bidang ekonomi The Indonesian Institute (TII) Nuri Resti Chayyani mengatakan pengambilan keputusan yang salah oleh industri di tengah penurunan permintaan global dapat menyebabkan terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap tenaga kerja di dalam negeri.

Kepada Antara di Jakarta, Selasa, dia mengatakan perusahaan yang tetap melakukan produksi dalam jumlah/ kapasitas besar di tengah kondisi permintaan global yang menurun, akan berdampak secara tidak langsung terhadap tenaga kerjanya.

“Yang harus diantisipasi adalah ketika perusahaan sudah membuat banyak produk, ternyata mitra dagang memutuskan untuk mengurangi permintaan. maka perusahaan akan melakukan efisiensi dengan cara PHK, ini yg harus di wanti-wanti,” kata Nuri.

Menurut dia, ramainya isu PHK industri sektor padat karya saat ini disebabkan oleh upaya penyesuaian oleh perusahaan karena permintaan barang yang berkurang dan penjualan menurun di pasar internasional.

“Untuk menutupi biaya operasionalnya, maka diputuskan untuk merumahkan karyawan,” kata Nuri.

Dalam kesempatan ini, dia mengatakan kinerja neraca perdagangan nasional berpotensi melemah pada tahun depan 2023, namun tidak sampai mengalami defisit, yang disebabkan oleh melemahnya perekonomian negara mitra dagang.

“(Saat ini) pelemahan permintaan global sudah terjadi di bidang tekstil seperti garmen dan alas kaki,” kata Nuri.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia surplus 5,67 miliar dolar AS pada Oktober 2022, dengan nilai ekspor 24,81 miliar dolar AS dan impor 19,14 miliar dolar AS.


Baca juga: Kadin nilai PHK sektor padat karya karena geopolitik global
Baca juga: Bahlil klaim isu PHK hanya relokasi bisnis
Baca juga: Menaker pastikan terus lakukan mitigasi dan mediasi hindari PHK