Peneliti: Kesimpulan Etilen & Dietilen Glikol Penyebab Gagal Ginjal Terlalu Prematur

Merdeka.com - Merdeka.com - Peneliti Keamanan dan Ketahanan Kesehatan Global Dicky Budiman menilai, kesimpulan pemerintah gangguan ginjal akut disebabkan cemaran etilen glikol (EG), dietilen glikol (DEG), dan etilen glikol butil ether (EGBE) pada obat sirop terlalu prematur.

Penilaian ini bukan tanpa sebab. Menurut Dicky, data gangguan ginjal akut rujukan pemerintah saat ini hanya berasal dari hasil pemeriksaan di rumah sakit. Bukan data kondisi yang terjadi di lingkungan masyarakat.

"Kalau bicara terdeteksi dari hasil pemeriksaan ada etilen glikol dan dietilen glikol, bisa saja. Artinya bisa jadi landasan. Tetapi untuk menyimpulkan bahwa semua ini hanya karena etilen dan dietilen glikol, ya, menurut saya terlalu prematur," kata Dicky, Jumat (4/11).

Dia menyebut, ada sekitar 30 hingga 40 persen pasien gagal ginjal akut tidak mengonsumsi obat sirop. Kondisi ini menunjukkan, etilen glikol, dietilen glikol, dan etilen glikol butil ether tidak bisa menjadi alasan kuat penyebab gagal ginjal akut.

Dicky menduga, ada penyebab lain gagal ginjal akut selain etilen glikol, dietilen glikol, dan etilen glikol butil ether. Misalnya, pasien mengalami dampak pernah terinfeksi Covid-19, kemudian mengonsumsi obat lain selain sirop.

"Jadi jangan disimplifikasi, jangan disederhanakan karena ingin cepat," ujarnya.

Pemerintah Perlu Buka Hasil Analisa Gagal Ginjal Akut

Terpisah, mantan Direktur WHO Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama menilai, tidak tepat bila kesimpulan penyebab gagal ginjal akut diambil dari data sejumlah pasien saja. Padahal, total pasien gagal ginjal di Indonesia sebanyak 304 anak.

Tjandra meminta pemerintah melakukan analisa mendalam penyebab gagal ginjal akut pada anak. Langkah yang dilakukan bisa dimulai dari mengecek satu per satu obat yang dikonsumsi pasien. Kemudian memeriksa riwayat infeksi pasien, faktor lingkungan, hingga kebiasaan tertentu.

“Untuk analisa ini maka tentu perlu dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) yang amat ketat pada setiap dari 304 anak itu, termasuk bagaimana keadaan di rumahnya, atau tempat bermain, atau di sekolahnya kalau sudah sekolah, dan lain-lain,” ujarnya.

Eks Kepala Balitbangkes Kemenkes ini menyarankan pemerintah membuka lengkap hasil analisa terhadap seluruh pasien gagal ginjal akut.

“Akan baik kalau dikeluarkan analisa dalam bentuk semacam tabel lengkap dari 304 kasus ini. Masing-masing dituliskan informasi demografinya, lalu informasi perjalanan penyakitnya, lalu obat-obat apa saja yang dikonsumsi sebelum sakit pada setiap anak itu dan juga berbagai faktor lain yang mungkin mempengaruhi terjadinya penyakit,” kata Tjandra.

Fakta Penyebab Gagal Ginjal Akut

Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan lima fakta etilen glikol, dietilen glikol, dan etilen glikol butil ether yang menjadi faktor risiko penyebab kasus gagal ginjal akut anak.

"Fakta pertama soal ginjal akut ini, sebelumnya kan berdasarkan hipotesa. Jadi kami melakukan biopsi terhadap anak-anak (pasien gagal ginjal akut) yang sakit," ungkap Budi Gunadi saat Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung DPR RI, Komplek Parlemen Senayan, Jakarta pada Rabu, 2 November 2022.

"Dari tiga anak yang kami lakukan biopsi di RSCM Jakarta, sekali lagi terbukti bahwa ada kristal kalsium oksalat di ginjal mereka. Sehingga fakta-fakta seperti ini sesuai analisa dari WHO ini, bahwa penyebabnya dari (kandungan EG/DEG/EGBE) obat sirup,” imbuhnya.

Untuk diketahui, kristal kalsium oksalat adalah sejenis batu ginjal yang paling umum, terjadi karena oksalat yang berkaitan dengan kalsium di dalam ginjal. Kalsium oksalat sering juga disebut dengan batu kalsium, terbentuk karena terlalu banyaknya kalsium oksalat di dalam urine.

Fakta kedua, pengecekan akhirnya dilakukan kepada seluruh pasien anak yang mengalami gagal ginjal akut. Pengecekan ditujukan untuk melihat, apakah terdapat senyawa EG/DEG/EGBE.

"Kita cek ke seluruh bayi yang sakit ternyata senyawa kimia ini ada," lanjut Budi.

Fakta ketiga, pemeriksaan senyawa etilen glikol, dietilen glikol, dan etilen glikol butil ether ditujukan kepada obat sirup yang dikonsumsi pasien anak gagal ginjal akut di rumah. Dalam hal ini, Kemenkes mendata obat sirup yang dikonsumsi pasien anak.

"Kita cek ke seluruh obat-obat sirup yang ada di rumah bayi-bayi tersebut. Ternyata ada juga senyawa kimia ini," Budi memaparkan.

"Fakta keempat, kita juga cek bahwa senyawa kimia dalam obat sirup ini kalau masuk ke dalam tubuh si anak akan menyebabkan timbulnya kerusakan ginjal. Dan ini juga terbukti pas biopsi."

Fakta kelima, senyawa etilen glikol, dietilen glikol, dan etilen glikol butil ether bereaksi efektif terhadap obat Fomepizole. Fomepizole merupakan jenis antidotum atau antidot (antidote) sebagai penawar racun.

"Begitu kita kasih Fomepizole yang merupakan terapi buat keracunan, hasilnya itu senyawa kimia yang masuk ke dalam tubuh anak ternyata reaktif. Efeknya sangat baik," Budi menerangkan.

"Kita mengambil kesimpulan bahwa risiko paling besar dari anak yang sakit dan meninggal akibat gagal ginjal akut karena adanya senyawa kimia yang masuk anak-anak ini,” tutupnya. [tin]