Peneliti: masih ada "destructive fishing" di kawasan konservasi

Biqwanto Situmorang
·Bacaan 2 menit

Senior Marine Program Specialist USAID Celly Catharina menyebutkan masih terdapat praktik penangkapan ikan dengan cara merusak atau destructive fishing di kawasan konservasi laut ekologi beberapa perairan rusak dan sumber daya perikanannya berkurang.

"Banyak ditemukan pecahan karang yang menunjukkan kemungkinan masih ada praktik penggunaan bom dalam menangkap ikan atau destructive fishing," kata Celly dalam webinar diskusi daring tentang maritim yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Celly mengatakan tim USAID Sea Project melakukan penelitian pada 14 kawasan konservasi perairan Kepulauan Maluku dan Papua Barat. Berdasarkan hasil kajian, kondisi tutupan karang secara umum menunjukkan peningkatan serta dalam kondisi baik dan stabil.

Baca juga: KKP: Perairan Arafura dan Timor penting untuk ekologi dan ekonomi
Baca juga: KKP tetapkan laut Pulau Belitung sebagai kawasan konservasi

Namun, biomassa ikan pada kawasan konservasi tersebut justru mengalami penurunan kendatipun keanekaragaman jenis ikan cukup tinggi di perairan Timur Indonesia. Kondisi ini berkebalikan dengan pertumbuhan terumbu karang yang meningkat.

Menurut Celly, kawasan konservasi laut yang telah ditetapkan oleh pemerintah perlu peningkatan dalam pengelolaan serta dibarengi dengan pengawasan terhadap aktivitas di kawasan itu.

"Kita berharap melalui dukungan penguatan kawasan konservasi, salah satunya bisa menjadikan kawasan efektif pengelolaannya, yaitu memberikan data positif bagi ekologi, sosial, dan ekonomi. Itu perlu waktu yang banyak, lima tahun proyek belum tentu cukup untuk menunjukkan hasil perbaikan yang signifikan," kata Celly.

Baca juga: KKP susun rencana pengelolaan kawasan maritim Teluk Benoa
Baca juga: KKP jadikan Pulau Pieh Sumbar habitat perlindungan mamalia laut

Regional Poject Manager The Arafura and Timor Seas (ATSEA-2) Handoko Susanto mengatakan pentingnya memilih penetapan lokasi kawasan konservasi laut yang tepat dan pengelolaan yang serius dalam melakukan konservasi perairan.

Menurutnya, kawasan konservasi yang efektif membutuhkan perencanaan dan kebijakan yang matang, sumber daya manusia yang memiliki kapasitas di bidangnya, kelembagaan, infrastruktur memadai, pendanaan, dan operasional pengelolaan.

Baca juga: LIPI:perbanyak kawasan konservasi laut dukung pemulihan terumbu karang
Baca juga: Ancol jadi kawasan restorasi kerang hijau pertama di Indonesia