Peneliti MIT Ciptakan Kamera Bawah Laut Wireless Tanpa Baterai

Merdeka.com - Merdeka.com - Peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah menciptakan kamera bawah laut tanpa kabel dan baterai untuk mempermudah mereka menjelajahi area laut yang sulit dijangkau.

Dilansir dari GizChina pada Kamis (27/10), kamera bawah laut MIT ini diuraikan detail dalam sebuah jurnal Nature Communication. Dalam jurnal itu, dikatakan bahwa kamera ini dapat mengambil gambar yang sangat jelas bahkan di area gelap serta mengirim data untuk memeriksa area bawah laut secara real time yang akan membantu menemukan spesies langka baru, memantau arus laut, polusi, atau operasi komersial dan militer.

Para peneliti percaya bahwa sebanyak 95 persen kehidupan laut belum terobservasi karena sebagian besar metode pengambilan gambar bawah air yang ada memerlukan koneksi ke kapal dan pembangkit listrik untuk komunikasi.

Mereka pun berupaya mengembangkan metode pencitraan nirkabel tanpa baterai menggunakan sensor pencitraan murah, tetapi hal itu hanya menghasilkan gambar grayscale. Tim juga perlu mengembangkan lampu kilat berdaya rendah karena sebagian besar wilayah perairan dalam tidak memiliki banyak cahaya alami.

Untungnya, para peneliti menemukan solusi. Mereka menggunakan LED merah, hijau, dan biru. Kamera mendapat cahaya di tempat dengan LED merah dan menangkap gambar dengan sensornya. Kemudian, mengulangi proses dengan LED hijau dan biru.

Gambar muncul dalam warna hitam putih. Namun, bagian putih dari setiap gambar mencerminkan tiga warna dari LED sehingga dapat merekonstruksi gambar penuh warna selama pemrosesan data.

Salah satu peneliti bernama Fadel Adib menganalogikan sistem ini dengan pembelajaran di kelas seni anak-anak dimana mereka belajar membuat semua warna menggunakan tiga warna dasar tersebut.

"Untuk gambar berwarna yang kita lihat di komputer, aturan yang sama pun berlaku. Kami hanya membutuhkan tiga saluran, merah, hijau, dan biru, untuk membuat gambar berwarna," kata Adib.

Para peneliti memperkirakan bahwa kamera bawah air mereka 100 ribu kali lebih hemat energi. Mereka yakin kameranya jauh lebih baik dari kamera biasa, bahkan dapat beroperasi selama berminggu-minggu tanpa henti.

Mereka juga percaya bahwa rentang deteksi yang lebih panjang dapat dicapai dengan menggunakan sensor beresolusi tinggi. Selain itu, jarak juga merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan kamera untuk memanen energi dan berkomunikasi, terbukti dari hasil uji coba yang dilakukan di Sungai Charles Massachusetts timur. Namun, kamera masih mampu mengirim data meski berjarak 40 meter dari penerima.

Sementara itu, Adib mengungkap bahwa salah satu aplikasi yang paling menarik dari kamera ini adalah fungsi pemantauan iklimnya. Kata dia, teknologi ini dapat membantu peneliti membuat model iklim yang lebih akurat dan lebih memahami pengaruh perubahan iklim terhadap kehidupan di dasar laut.

Reporter Magang: Dinda Khansa Berlian [faz]