Peneliti: Partai Oposisi Berpeluang Kuasai Pemilu 2014

Jakarta (ANTARA) - Partai oposisi berpeluang menguasai perolehan suara pada Pemilihan Umum 2014 karena memiliki posisi strategis di depan publik, kata Direktur Lembaga Pemilih Indonesia Boni Hargens.

"Posisi mereka strategis yaitu mendapat simpati publik karena tidak terlibat dalam kebijakan kontroversial seperti kenaikan bahan bakar minyak (BBM)," kata Boni kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Dia mengatakan sentimen publik saat ini berada pada partai kontra pemerintah sehingga dukungannya sangat kuat.

Namun dia menjelaskan dukungan itu harus bisa diharmoniskan dengan kerja-kerja partai, mobilisasi dukungan, kapasitas calon legislatif yang dimilikinya dan pola kampanye yang dilakukan parpol tersebut.

"Ibaratnya partai oposisi itu sudah mendapatkan kartu namun sampai sejauh mana mereka memanfaatkan kartu itu," ujarnya.

Menurut dia, prahara yang sedang dihadapi beberapa partai seperti Partai Demokrat dan PKS memberikan keuntungan kepada partai oposisi secara pasif.

Menurut dia, partai oposisi harus menerapkan strategi untuk meningkatkan elektabilitasnya seperti menggenjot pola kampanye yang bagus, mengusung isu yang tepat, dan menempatkan figur kader partai secara tepat.

"Prahara di Demokrat dan PKS jelas berpengaruh kepada partai oposisi. Semakin besar prahara yang terjadi di partai berkuasa, oposisi secara pasif akan mendapatkan keuntungan," tandasnya.

Sebelumnya survei Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) menyebutkan elektabilitas Partai Golkar sebesar 13,2 persen dan PDI Perjuangan 12,7 persen. Di bawah dua parpol itu, berurutan Partai Gerindra 7,3 persen, Partai Demokrat 7,1 persen, Partai Amanat Nasional 4 persen, Partai Kebangkitan Bangsa 3,5 persen.

Selanjutnya, Partai Keadilan Sejahtera sebesar 2,7 persen, Partai Persatuan Pembangunan 2,2 persen, Partai Hanura 2,2 persen, Partai Nasdem 1,3 persen, Partai Bulan Bintang 0,4 persen, dan di urutan terakhir Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia 0,2 persen.

Survei tersebut dilakukan secara tatap muka dengan jumlah responden 1.635 orang yang berada di 31 provinsi pada 9-16 April 2013 . Warga Papua dan Papua Barat tidak dilakukan survei lantaran situasi yang tidak kondusif.

Di dalam survei tersebut tingkat kesalahan atau "margin of error" sebesar 2,42 persen. Seperti survei selama ini, sebanyak 40,5 persen responden belum menentukan pilihan dan 2,7 persen golput.

Semakin tingginya angka Golput ini disebabkan adanya hubungan yang lemah antara konstituen dengan partai politik atau politisi. Hal itu menimbulkan kualitas hubungan yang buruk di antara pemilih dan partai, sehingga menimbulkan perilaku beli putus serta tidak adanya hubungan emosional antara rakyat dengan politisi menjadi penyebabnya.

Survei CSIS kali ini menguatkan pandangan tentang tidak terlembaganya parpol yang mengakibatkan proses rekrutmen dan kaderissi yang merupakan pintu gerbang hubungan partai konstituen juga lemah.(fr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.