Peneliti Temukan 4 Gejala Baru COVID-19, Apa Saja?

Ichsan Suhendra, Isra Berlian
·Bacaan 2 menit

VIVA – Demam, batuk dan sesak nafas menjadu gejala khas dari COVID-19. Namun seiring berjalannya waktu sejumlah gejala baru dari COVID-19 bermunculan mulai dari hilangnya indra penciuman, ruam kulit, hingga diare.

Namun, para ilmuwan kini diyakini telah menemukan empat gejala baru yang perlu diwaspadai setiap orang terpapar COVID-19. Beberapa tanda tersebut antara lain, panas dingin, kehilangan nafsu makan, sakit kepala dan nyeri otot

Dilansir dari laman Dailystar, gejala tersebut telah diidentifikasi sebagai hasil penelitian yang dilakukan oleh Imperial College London. Hal ini didasarkan pada tes swab dan kuesioner yang dikumpulkan selama periode tujuh bulan antara Juni 2020 hingga Januari 2021. Studi tersebut juga menemukan gejala bervariasi tergantung pada usia orang yang terinfeksi.

Untuk gejala panas dingin atau menggigil tampaknya menjadi gejala COVID-19 yang paling umum di antara semua demografi usia. Sementara gejala sakit kepala tampaknya lebih menonjol di kalangan anak muda.

Kehilangan nafsu makan dan nyeri otot jauh lebih umum di antara semua orang dewasa yang terinfeksi, berusia antara 18-54 dan di atas 55 tahun.

Mereka yang terinfeksi penyakit berusia 17 atau lebih muda juga jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menunjukkan tanda-tanda seperti batuk terus-menerus, suhu tinggi dan kehilangan nafsu makan dibandingkan dengan orang dewasa.

Sebanyak 60% dari semua peserta dalam penelitian ini melaporkan tidak ada gejala selama periode tujuh hari menjelang tes mereka. Meskipun setiap orang yang saat ini memiliki salah satu dari tiga gejala utama sangat dianjurkan untuk menjalani tes.

Penelitian juga menunjukkan jika setiap orang yang memiliki gejala tersebut dites, hanya 50% dari infeksi simptomatik yang benar-benar dapat diidentifikasi.

Para ahli telah menyatakan jika gejala baru ini diketahui lebih luas dan setiap orang yang mengalaminya menerima tes, 75% dari gejala infeksi akan ditemukan.

Direktur program React di Imperial, Profesor Paul Elliott mengatakan, temuan baru ini menunjukkan banyak orang dengan COVID-19 tidak akan dites. Dan itu membuat mereka tidak akan mengisolasi diri karena gejala mereka tidak sesuai dengan gejala yang terdapat dalam panduan kesehatan masyarakat untuk membantu mengidentifikasi orang yang terinfeksi.

“Saya berharap temuan kami tentang gejala yang paling informatif berarti bahwa program pengujian dapat memanfaatkan bukti paling mutakhir, membantu mengidentifikasi lebih banyak orang yang terinfeksi," kata Paul.