Peneliti Temukan Sistem Pelacak Canggih

Oleh Elizabeth Palermo
 
Mirip Peta Perampok seperti dalam kisah Harry Potter, sebuah perangkat lunak mampu melacak keberadaan puluhan orang pada saat bersamaan, memantau subjek yang datang dan pergi, di lokasi dengan tata ruang serumit Hogwarts.

Para peneliti di Carnegie Mellon University di Pittsburgh telah menyempurnakan sistem pelacakan multi-kamera yang mereka gunakan untuk memantau para penghuni panti wreda sejak 2005. Proyek itu awalnya dikembangkan untuk memantau kesehatan para lansia dengan mengamati tingkat aktivitas dan perilaku mereka.

Tapi Alexander Hauptmann, salah satu peneliti proyek itu, percaya bahwa sistem tersebut juga berguna untuk mengidentifikasi tersangka kriminal atau teroris, seperti pelaku pengebom Boston Marathon pada April.
 
Sebagian besar analisis video yang diperlukan untuk melacak orang-orang seperti itu dilakukan secara manual, sehingga memakan waktu dan tidak akurat. Dengan membuat otomatisasi teknik pelacakan, sistem keamanan akan lebih berguna bagi petugas keamanan di bandara dan fasilitas umum lainnya, kata Hauptmann.

Dan jika digunakan bersama dengan algoritma yang ada, untuk menentukan seseorang yang terekam di kamera pengintai — yang berpotensi berbahaya atau bahkan seorang kriminal yang diburu, algoritma CMU dapat membantu meningkatkan sistem keamanan publik.

Sistem pelacakan CMU menggunakan jaringan kamera video dan algoritma yang dikalkulasi secara cermat yang memperhitungkan beberapa petunjuk dari rekaman kamera, termasuk warna pakaian, deteksi orang, gerak-gerik, dan pengenalan wajah.

Tidak seperti peneliti lain yang mempelajari multi-kamera, pelacakan multi-objek, tim CMU memilih untuk menguji teknik pelacakan mereka pada subjek nyata, bukan di laboratorium virtual, yang membuat penelitian mereka lebih sulit, tetapi juga membantu mereka mengembangkan produk yang dapat disesuaikan dengan baik di dunia nyata.

Sistem pelacakan mereka bekerja dengan baik, bahkan ketika dihadapkan dengan rintangan umum seperti lorong-lorong panjang, pintu, orang-orang yang berbaur di lorong, variasi pencahayaan, dan hanya membutuhkan sedikit kamera untuk memberikan pandangan komprehensif yang tidak tumpang tindih.
 
Sistem CMU dapat menemukan individu dalam jarak satu meter dari posisi mereka yang sebenarnya dengan akurasi 88 persen, suatu prestasi yang menurut Shoou-I Yu, seorang peneliti dalam penelitian itu, kemungkinan besar dibantu oleh teknologi pengenalan wajah.

Menghilangkan pengenalan wajah dari data algoritma membuat sistem tersebut mengalami penurunan akurasi menjadi 58 persen.Para peneliti mengatakan bahwa rencana mereka untuk sistem pelacakan tersebut di masa mendatang termasuk menambahkan bagian-bagian yang pribadi — seperti merekam lekuk tubuh seseorang, bukan seluruh tubuh — sehingga sistem tersebut dapat digunakan secara lebih praktis di dalam fasilitas perawatan seperti panti wreda.

Mereka juga berencana untuk menambahkan kamera yang lebih canggih, seperti Kinect Microsoft, agar dapat menentukan lokasi subjek secara lebih akurat.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.