Penelitian: Ada 20 Kuadriliun Semut di Bumi

Merdeka.com - Merdeka.com - Penelitian baru menyatakan sedikitnya ada 20 kuadriliun atau 20.000 triliun semut di Bumi. Angka yang mengejutkan ini kemungkinan masih jauh dari total populasi serangga, yang merupakan bagian penting dari ekosistem di seluruh dunia.

Menentukan populasi semut secara global penting untuk mengukur konsekuensi dari perubahan pada habitat mereka, termasuk yang disebabkan krisis iklim.

Semut memiliki peran penting seperti menyebarkan benih, menampung organisme, dan berfungsi sebagai pemangsa atau mangsa.

Sejumlah penelitian telah berusaha memperkirakan jumlah populasi semut global, tapi hasilnya jauh lebih kecil dari hasil terbaru ini yaitu 20 juta miliar.

Dalam temuan baru ini, para peneliti menganalisis 465 penelitian yang mengukur jumlah semut, seperti dikutip dari laman TRT World, Selasa (20/9). Penelitian ini diterbitkan pada Senin dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS).

Ratusan penelitian menggunakan dua teknik standar: memasang perangkap yang menangkap semut yang lewat selama periode waktu tertentu, atau menganalisis jumlah semut pada sepetak daun tertentu di tanah.

Walaupun survei telah dilakukan di semua benua, beberapa wilayah utama hanya memiliki sedikit data atau tidak ada sama sekali, termasuk Afrika tengah dan Asia.

Inilah alasan mengapa jumlah semut jauh lebih besar dari yang diperkirakan.

"Sangat penting bagi kami untuk mengisi celah yang tersisa ini untuk mencapai gambaran komprehensif tentang keanekaragaman serangga," jelas para peneliti dalam jurnal tersebut.

Ada lebih dari 15.700 spesies dan subspesies semut bernama yang ditemukan di seluruh planet ini, dan kemungkinan jumlah semut yang belum dideskripsikan atau diberikan nama juga sebanyak itu.

Namun hampir dua pertiganya hanya ditemukan di dua tipe ekosistem: hutan tropis dan sabana.

Berdasarkan perkiraan jumlah semut, total biomassa global mereka diperkirakan 12 megaton karbon kering — lebih banyak daripada gabungan burung dan mamalia liar, dan 20 persen dari manusia.

Di masa depan, para peneliti berencana untuk mempelajari faktor lingkungan yang mempengaruhi kepadatan populasi makhluk kecil tersebut. [pan]