Penelitian menyimpulkan laut yang lebih hangat membuat badai lebih kencang lebih lama

·Bacaan 3 menit

Tokyo (AFP) - Laut yang lebih hangat yang disebabkan oleh perubahan iklim membuat badai lebih kencang lebih lama setelah mendarat sehingga memperparah kerusakan yang dapat ditimbulkannya, demikian kesimpulan sebuah studi terbaru.

Para peneliti memperingatkan, temuan ini menunjukkan masyarakat pedalaman yang mungkin kurang siap dibandingkan daerah pesisir saat menghadapi badai, menjadi semakin berisiko.

Dampak perubahan iklim terhadap badai tropis termasuk angin topan masih dipelajari, meskipun planet yang menghangat sudah diketahui membuat badai semakin besar dan kuat.

Jadi para akademisi di sebuah universitas Jepang melihat data badai Atlantik Utara dari 1967-2018 dan memeriksa "tingkat kerusakan" mereka berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melemah pada hari pertama setelah mendarat.

Mereka berusaha memahami apa dampak pemanasan laut terhadap badai saat mendarat, biasanya ketika badai mulai kehilangan kekuatan.

"Kami menunjukkan bahwa skala waktu peluruhan hampir dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, kenaikan yang sangat besar," kata Pinaki Chakraborty, profesor Okinawa Institute of Science and Technology Graduate University yang memimpin penelitian ini, kepada AFP.

Itu bisa mengartikan kehancuran "tidak lagi terbatas kepada daerah pesisir sehingga menyebabkan tingkat kerusakan ekonomi lebih tinggi dan memakan korban nyawa lebih banyak", kata dia memperingatkan.

Para peneliti melihat apakah tingkat pembusukan yang lebih lama berkorelasi dengan suhu laut, yang bervariasi dari tahun ke tahun, meskipun secara keseluruhan meningkat.

Mereka menemukan hubungan yang tegas: manakala suhu permukaan laut meninggi, maka badai tetap lebih kencang lebih lama di darat.

Tetapi korelasi tidak sama dengan penyebab, kata mereka. Lantas bagaimana cara menguji hubungan ini?

Mereka beralih ke pemodelan komputer, "membangun" empat badai yang berkembang dalam kondisi yang sama kecuali suhu permukaan laut.

Manakala masing-masing mencapai kekuatan setara dengan badai Kategori 4, maka mereka "mematikan" pasokan uap air ke model badai -mensimulasikan transisi mereka dari laut ke darat- dan mengamati bagaimana masing-masing berperilaku.

"Meskipun intensitas saat pendaratan sama untuk keempat badai ... intensitas badai yang berkembang di lautan yang lebih hangat membusuk pada tingkat yang lebih lambat," kata penelitian ini.

Untuk menguji lebih lanjut proposisi ini, mereka memodelkan empat badai di bawah kondisi yang sama -tetapi kali ini ketika mereka melakukan simulasi pendaratan, para peneliti menghilangkan kelembaban yang tersimpan di badai.

"Badai kering" ini dengan cepat kehilangan intensitas secara signifikan, dan terutama pada kecepatan yang sama, meskipun telah berkembang di atas air laut dengan suhu berbeda.

Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya terletak pada kelembapan yang menjadi bahan bakar yang menggerakkan badai, kata para peneliti.

Badai yang terjadi di atas air yang lebih hangat menahan "kelembapan tersimpan" yang lebih banyak, mirip dengan tangki bahan bakar kecil.

Ini membuat badai menjadi lebih kencang lebih lama setelah mendarat, meskipun sudah terputus dari pasokan laut.

Masih ada pertanyaan yang belum terjawab, termasuk seberapa besar suhu laut mempengaruhi waktu yang dibutuhkan untuk melemahkan badai.

Lokasi badai di daratan telah bergeser dari waktu ke waktu, kata Dan Chavas dan Jie Chen dari Departemen Ilmu Bumi, Atmosfer dan Planet Universitas Purdue, dalam tinjauan yang ditugaskan oleh jurnal ilmiah Nature.

Perbedaan medan di titik-titik pendaratan baru bisa berperan dalam badai yang melemah lebih lambat, kata mereka memperingatkan.

Perubahan teknologi yang digunakan untuk mengamati badai selama beberapa dekade terakhir juga bisa mempengaruhi temuan tersebut.

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan itu, penelitian ini "menambah bobot pada kekhawatiran yang berkembang bahwa di masa depan siklon tropis mungkin menjadi lebih merusak," tulis mereka.

Ini semestinya mendorong peneliti "memperluas pemikiran mereka" tentang perubahan iklim dan badai, tambah mereka.

Chakraborty mengatakan dia berencana memperluas penelitian ke wilayah-wilayah lain yang terdampak badai tropis guna melihat apakah efek serupa teramati.

sah/kaf/jfx/qan