Penelitian ungkap panda raksasa makan bambu sejak 7 juta tahun lalu

Sebuah tim riset China, Rabu (6/7) melaporkan temuan baru mereka tentang evolusi jempol tambahan (false thumb) pada panda raksasa, yang menunjukkan bahwa hewan itu telah menjadi pemakan bambu saja sejak lebih dari 6 juta tahun yang lalu.

Penelitian tersebut, yang dilakukan oleh para ilmuwan di Institut Paleontologi dan Paleoantropologi Vertebrata (Institute of Vertebrate Paleontology and Paleoanthropology/IVPP) yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) dan Institut Zoologi Kunming yang juga berada di bawah naungan CAS, diterbitkan baru-baru ini dalam jurnal Scientific Reports.

Di antara banyak ciri yang memungkinkan panda raksasa, salah satu anggota ordo karnivora, beradaptasi terhadap kehidupan sebagai pemakan bambu saja, "jempol" ekstranya menjadi salah satu ciri yang paling terkenal dan membuat penasaran, menurut Deng Tao dari IVPP, salah satu penulis dalam riset ini.

Selain lima jari normal seperti tangan kebanyakan mamalia, panda raksasa memiliki tulang pergelangan tangan yang sangat besar, atau disebut sesamoid radial, yang berfungsi sebagai jari keenam, sebuah ibu jari dengan arah berlawanan untuk memanipulasi bambu, tutur Deng.

Para peneliti mempelajari sesamoid radial besar paling awal pada genus panda purba Ailurarctos dari situs Miocene akhir di Shuitangba, Provinsi Yunnan, China barat daya. Jempol pada genus panda purba tersebut diketahui telah memiliki fungsi sebagai jempol berlawanan.

Mereka menemukan bahwa akan sulit bagi jempol tambahan panda yang telah punah itu untuk mengumpulkan makanan seperti biji-bijian, kacang, dan buah beri. Bambu menjadi satu-satunya target makanan dari evolusi sesamoid radialnya yang besar.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa diet khusus bambu pada panda raksasa telah terbentuk sejak 7 juta hingga 6 juta tahun yang lalu.

Jempol tambahan ini tidak membesar lagi sejak era Miocene akhir, dan tidak pernah berevolusi menjadi jari sepenuhnya. Para peneliti meyakini bahwa hal ini mencerminkan fungsi ganda dari jempol tambahan tersebut untuk memanipulasi dan mendistribusikan berat bambu.

Karena habitat panda raksasa kaya akan bambu, spesies ini tidak membutuhkan jempol yang lebih panjang untuk mengakses makanan yang sudah tersedia, ujar Deng.

Selain itu, sesamoid radial yang panjangnya berlebihan akan membuat berjalan menjadi tidak nyaman bagi panda raksasa karena hewan itu berjalan dengan postur plantigrade, imbuh Deng.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel