Penembakan di Bangkok Saat Hari Valentine, Pelaku Dibekuk Setelah 6 Jam Dikepung

Liputan6.com, Bangkok - Hari Valentine di Bangkok tercoreng akibat peristiwa penembakan. Setelah beberapa hari sebelumnya terjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand.

Mengutip The New York Times, Sabtu (15/2/2020), seorang pria bersenjata yang melepaskan tembakan beberapa ronde ke arah orang-orang di Bangkok itu ditangkap di hari yang sama saat penembakan, Jumat 14 Februari.

Pelaku berhasil dibekuk setelah enam jam terkepung.

Tidak ada cedera atau kematian dalam penembakan itu, yang dimulai pada Jumat dini hari. Pria itu, yang oleh polisi diidentifikasi oleh media lokal sebagai Ekkachai Charueksilp, mulai menembakkan tembakan dari rumahnya di atas toko peralatan olahraga di lingkungan pusat Bangkok.

Pria bersenjata itu melepaskan setidaknya 20 tembakan, yang mengarah pengepungan enam jam oleh  polisi di jalan yang ditutup untuk umum. Pengepungan berakhir setelah petugas meminta bantuan dari kerabat penembak dan mengirim tim untuk menengahi pria bersenjata tersebut.

"Pria bersenjata itu akhirnya menyerah dan ditanyai tentang motifnya," kata Kolonel Krissana Pattanacharoen, juru bicara Kepolisian Kerajaan Thailand.

 

Motif Masalah Keluarga?

Ilustrasi Foto Penembakan (iStockphoto)

Pria bersenjata itu mengatakan kepada penyelidik dalam penyelidikan awal bahwa penembakan itu dimotivasi oleh masalah keluarga, kata Kolonel Krissana Pattanacharoen.

"Mungkin dia sedang stres dan tidak bisa menemukan jalan keluar," tambahnya.

Tembakan-tembakan itu menghancurkan ketenangan dini hari di lingkungan yang sunyi dekat Universitas Chulalongkorn, menyebabkan orang-orang di daerah itu melarikan diri. Saksi mata mengatakan pria bersenjata itu menembak ke udara dan juga ke arah orang-orang.

Penembakan itu terjadi setelah penembakan massal paling mematikan di Thailand, di mana seorang tentara Thailand melakukan serangaan brutal dengan senjata selama 18 jam di Kota Korat di timur laut pada hari Sabtu lalu, menewaskan sedikitnya 29 jiwa dan melukai 58 orang lainnya.

Ratusan pembeli melarikan diri dan bersembunyi di dalam pusat perbelanjaan sebelum prajurit yang mengenakan pakaian militer itu dibunuh oleh petugas polisi pada hari Minggu pagi. Perdana menteri negara itu, Prayuth Chan-ocha, mengatakan tentara itu marah tentang sengketa tanah.

Meskipun banyak orang memiliki senjata di Thailand, pembunuhan massal jarang terjadi, dan amukan tentara yang kejam membuat ngeri bangsa itu. Laporan berita awal tentang tembakan hari Jumat, bertepatan dengan Hari Valentine, memicu kekhawatiran atas penembakan peniru.