Penembakan Polisi Berkaitan dengan Sentra Cipacing

TEMPO.CO, Jakarta - Polisi menduga penembakan polisi di Pondok Aren, Tangerang menggunakan senjata api rakitan dari sentra senjata Cipacing, Jawa Barat. "Ada kaitannya," kata Juru Bicara Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto lewat pesan singkat, Senin, 26 Agustus 2013. (Baca: Polisi Gerebek Lagi Sentra Senapan Cipacing)

Dugaan itu muncul usai uji laboratoriom selongsong peluru yang ditembakkan pelaku yang menewaskan dua anggota polisi di Pondok Aren. "Masih kami telusuri, masih dugaan," ujarnya. (Baca: Teroris Beli Senjata dari Cipacing Bandung)

Sebelumnya, polisi menangkap lima penjual senjata api rakitan di Cipacing, Jawa Barat. Kelimanya adalah Yona Martiana, 25 tahun, Yopi Maulana, 31 tahun, Asep Barkah, 36 tahun, Aok Dahroh, 40 tahun, dan Dede Supriyatna, 47 tahun. Kelimanya ditangkap atas pengembangan kasus penemuan amunisi senjata milik Aris Widagdo, 46 tahun di Jakarta Timur.

Aris ditangkap di Cipacing, Jumat malam pekan lalu. Ketika ditangkap Aris kedapatan membawa tiga laras senjata api dan dua silinder revolver. Ia merupakan pemilik kardus berisi 460 butir peluru kaliber 7,62 mm; 6 peluru kaliber 9 mm; 4 peluru kaliber 7 mm super; 8 selongsong peluru kosong; sebuah peluru kecil; sebuah pematik revolfer; sebuah silinder revolfer; 23 mimis senapan angin di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah.

Selain itu, polisi juga menyita 4.000 peluru kaliber 5,56 dan 7,62 di Cicendo, Bandung. Ribuan butir peluru itu juga diduga milik Aris. Polisi masih mengembangkan kasus ini untuk menuntaskan kasus penembakan polisi yang tak hanya terjadi di Pondok Aren, juga di Cirendeu, dan Pamulang. Tiga polisi tewas akibat penembakan yang dilakukan orang tak dikenal dengan menggunakan sepeda motor itu. Baca kasus penembakan polisi di sini.

M. ANDI PERDANA

Berita Lainnya:

Penjual Airsoft Gun Istri Terpidana Teroris

Penembakan Polisi, Oegroseno Tak Mau Spekulasi

Tips Wakapolri Hadapi Teror: Tatap Matanya

Polisi Ditembak, Oegroseno: Moral Anggota Naik

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.