Penembakan Terjadi di Toko Minuman Keras Louisiana, 5 Orang Terluka Parah

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Shreveport - Lima orang dirawat di rumah sakit setelah terluka parah dalam penembakan di sebuah toko minuman keras di Shreveport, Louisiana.

Stasiun televisi yang berafiliasi dengan CBS, KSLA melaporkan kejadian tersebut pada Minggu malam (18/4).

Dengan detail peristiwa yang masih minim, pihak berwenang menggambarkan korban mengalami guncangan jiwa usai kejadian.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (19/4/2021) hingga kini polisi sedang mencari pengendara mobil Ford putih yang diduga melakukan penembakan.

Insiden itu adalah penembakan ketiga yang dilaporkan dalam waktu dekat di Amerika Serikat.

Sebelumnya, seorang pria bersenjata membunuh delapan pekerja dan dirinya sendiri di pabrik FedEx Indianapolis pada Kamis malam.

Selain itu, ada pula setidaknya tujuh penembakan massal yang mematikan di Amerika Serikat selama sebulan terakhir.

Dalam insiden Shreveport Minggu (18/4), empat orang berada di luar toko, di Hearne Avenue, sementara satu orang berada di dalam toko saat penembakan terjadi, menurut laporan KLSA.

Beberapa polisi dikirim ke tempat kejadian, yang terjadi sekitar jam 9 malam waktu setempat, kata laporan itu.

Reuters tidak dapat menghubungi polisi setempat. Kantor walikota Shreveport tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Kasus Penembakan Lain

Jenis Senjata Api Pistol (Sumber: Pixabay)
Jenis Senjata Api Pistol (Sumber: Pixabay)

Sebelumnya pada Minggu (18/4) tiga orang tewas di sebuah kompleks apartemen di Austin, Texas dan pihak berwenang memburu mantan wakil sheriff yang dicari sehubungan dengan penembakan fatal itu.

Secara terpisah, tiga orang tewas dan dua lainnya cedera dalam penembakan di sebuah bar di Kenosha County, Wisconsin, pada Minggu dini hari.

Serentetan penembakan telah meningkatkan tekanan publik untuk memperketat peraturan penggunaan senjata.

Sebagian besar orang Amerika Serikat mendukung undang-undang senjata yang lebih ketat, menurut jajak pendapat Reuters dan Ipsos, tetapi Washington tidak berbuat banyak untuk mengatasi masalah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Simak video pilihan di bawah ini: