Penerbangan Pacific Royale ke Kerinci Terhenti

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Edi Januar

TRIBUNNEWS.COM, KERINCI - Maskapai penerbangan Pacific Royale Airways, yang melayani penerbangan di Bandara Depati Parbo, Kabupaten Kerinci, sejak beberapa bulan lalu, akhirnya menghentikan penerbangan mereka.

Informasi yang didapat Tribun Jambi (Tribun Network) dari berbagai sumber, berhentinya penerbangan tersebut dikarenakan beberapa penyebab. Diantaranya karena rusaknya pesawat, dan saat ini sedang dalam masa perbaikan.

Disamping itu, ada juga kemungkinan manajemen Pasific Royale menginginkan subsidi dari Pemkab Kerinci, karena penerbangan selama ini merupakan komersial murni, sementara jumlah penumpangnya belum begitu maksimal.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kerinci, Guldianto, saat dikonfirmasi Tribun mengakui adanya penghentian penerbangan tersebut. Ia mengaku, penghentian penerbangan dilakukan sejak 15 September lalu, dan direncanakan sampai 25 September 2012.

"Informasi yang kami dapat, berhentinya penerbangan tersebut karena mereka sedang servis pesawat. Dua pesawat sedang diservis di Pondok Cabe, sementara satu pesawatnya lagi sedang diservis di Surabaya," ujar Guldianto, Minggu (23/9/2012).

Ditanya apakah ada kepastian Pasific Royale akan kembali terbang di Kerinci setelah servis tersebut? Guldianto mengaku belum ada kepastian. "Kita belum bisa memastikan, nanti kita lihat saja dulu mereka akan terbang atau tidak," jawabnya.

Kadishub Kerinci tersebut juga mengakui, ada kemungkinan Pasific Royale menginginkan subsidi dari pemerintah daerah.

"Saya sudah menyarankan kepada pimpinan mereka untuk datang ke Kerinci dan melakukan diskusi. Dengan demikian kita tahu apa keluhan mereka," terang Guldianto.

Selama ini lanjutnya, jumlah penumpang memang belum menunjukkan adanya peningkatan.

"Penumpang belum memenuhi standar. Banyaknya penumpang hanya jelang Lebaran lalu, setelah itu sepi lagi," tambahnya.

Disamping itu, ia juga mengaku pemerintah daerah memang belum pernah memberikan subsidi untuk Pasific Royale. Belum stabilnya jadwal penerbangan, menjadi salah satu penyebab belum banyaknya penumpang yang bepergian menggunakan pesawat.

"Kita ragu mau naik pesawat atau tidak kalau keluar daerah, kadang setelah pesan tiket pesawatnya tidak jadi mendarat, padahal ada rapat penting di Jakarta," ungkap Kadis Kesehatan Kerinci, Raflizar.

Karena tidak mau ambil risiko tambahnya, ia lebih memilih berangkat melalui jalur darat lewat Padang atau Jambi, dan kemudian naik pesawat ke Jakarta. "Kalau memang sudah stabil, memang lebih baik naik pesawat dari Kerinci langsung," ujarnya.

Pantauan Tribun di Bandara Depati Parbo, sejak tidak beroperasinya Pasific Royale, membuat suasana menjadi kembali sepi. Di bandara hanya terlihat aktivitas penggembala sapi, dan petani yang lalu lalang ke sawah.

Kepala Bandara Depati Parbo Kabupaten Kerinci, Edi Marpaung, mengatakan Oktober pesawat akan terbang lagi. Sementara untuk soal penumpang, masih bisa dikatakan lumayan, tergantung dengan waktu dan kondisi.

"Saat lebaran kemarin penumpangnya cukup banyak. Dan pada hari-hari biasanya penumpang juga selalu ada," bebernya.

Selain Pasific Royale Airways sebenarnya masih ada maskapai penerbangan Nusantara Buara Air (NBA) yang disubsidi oleh pusat, yang juga melayani penerbangan ke Kerinci. Hanya saja rute penerbangannya hanya ke Padang saja.

"Sayang NBA sering tidak masuk, karena penumpangnya memang kurang. Kalau Kerinci-Padang peminatnya memang sepi, tidak seperti Kerinci-Jambi, yang penumpangnya selalu ada," tambahnya.

Beberapa maskapai penerbangan lainnya, seperti Sky, Riau Air Lines, Susi Air, yang sempat membuka penerbangan di Kabupaten Kerinci, juga tiba-tiba menghentikan penerbangan.

Baca Juga:

  • Ratusan Asongan Blokir Stasiun Mojokerto 
  • Pemkab Lampung Selatan Salat Istisqo 
  • Nenek 73 Tahun Tewas Membusuk di Kamar 
  • Bea Cukai Tangkap Kapal Bermuatan 700 Ton Mintan Ilegal
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.