Pengacara: Bharada E Nembak Brigadir J Pertama dan Ferdy Sambo Terakhir

Merdeka.com - Merdeka.com - Bharada E alias Richard Eliezer mengaku jika dirinya yang menembak Brigadir J alias Nofryansyah Yoshua Hutabarat pertama kali. Kemudian, korban kembali ditembak oleh Irjen Ferdy Sambo.

Kuasa Hukum Bharada E, Ronny Talapessy mengatakan, pengakuan kliennya itu dikatakannya pada saat dilakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat Lie Detector atau pengungkap kebohongan.

"Lie ditector yang ditanyakan ke klien saya terkait dengan peristiwa di Duren Tiga, salah satu poin krusial adalah siapa saja yang menembak J. Klien saya menjawab, saya pertama dan FS (Ferdy Sambo) yang menmbak terakhir," kata Ronny saat dihubungi, Sabtu (10/9).

Sebelumnya, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri telah melakukan pemeriksaan terhadap Bripka Ricky Rizal, Bharada Richard Eliezer dan Kuat Maruf.

Ketiganya diperiksa terkait kematian Brigadir J alias Nofryansyah Yoshua Hutabarat dengan menggunakan Lie Detector atau alat pengungkap kebohongan.

Dir Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian mengatakan, hasil sementara dari pemeriksaan ketiganya dengan menggunakan Lie Detector tersebut yakni 'jujur'.

"Saya dapat hasil sementara uji Polygraph terhadap RE, RR dan KM, hasilnya'No Deception Indicated' alias jujur," kata Andi saat dihubungi, Rabu (7/9).

Ia menjelaskan, terkait dengan pertanyaan yang ditanyakan kepada ketiganya itu yakni pertanyaan kunci dan bukan pertanyaan yang seperti dilontarkan pada saat BAP ( Berita Acara Pemeriksaan).

"Tidak (sama yang di BAP) hanya pertanyaan kunci. Berbeda-beda pertanyaan, sesuai peran masing-masing," jelasnya.

Diketahu, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri melakukan pemeriksaan terhadap Bripka Ricky Rizal terkait kasus kematian Brigadir J alias Nofryansyah Yoshua Hutabarat. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan Lie Detector atau alat pengungkap kebohongan.karta Selatan.

"Iya betul (pemeriksaan menggunakan lie detector) namanya uji polygraph," kata Dir Tipidum Bareskrim Polri Brigjen Andi Rian saat dihubungi, Senin (5/9).

Andi menjelaskan, pemeriksaan dengan menggunakan Lie Detector ini juga dilakukan terhadap tersangka lainnya.

"Iya semuanya (uji polygraph) terjadwal 2 orang per hari," jelasnya.

Ia menyebut, untuk tersangka lain yang dilakukan pemeriksaan menggunakan alat pengunkap kebohongan itu yakni Kuat Maruf dan Bharada Richard Eliezer.

"(Hari ini) RR dan KM. Bharada RE sudah duluan sebelum tersangka lainnya," sebutnya.

Polri telah menetapkan lima orang tersangka atas kasus tewasnya Brigadir J alias Nofryansyah Yoshua Hutabarat. Kelima orang itu yakni Irjen Ferdy Sambo, Bripka Ricky Rizal, Bharada Richard Eliezer, Kuwat Maruf dan Putri Candrawathi.

Dalang atau otak dibalik pembunuhan berencana yang menewaskan Brigadir J ini adalah Ferdy Sambo. Oleh karena itu, ia pun bersama dengan tiga orang tersangka lainnya, Bripka Ricky Rizal, Kuwat Maruf dan Putri Candrawathi dikenakan Pasal 340 subsider Pasal 338 Juncto Pasal 55 dan Pasal 56.

Sedangkan, untuk Bharada Richard Eliezer sendiri hanya dikenakan Pasal 338 saja.

Meski sudah menjadi tersangka, Putri belum dilakukan penahanan. Sedangkan, Ferdy Sambo ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Lalu, untuk Bharada Richard Eliezer, Bripka Ricky Rizal dan Kuwat Maruf ditahan di Rutan Bareskrim Polri. [rhm]