Pengacara Klaim Penetapan Tersangka Angin Prayitno Tak Sesuai KUHAP

·Bacaan 2 menit

VIVAPengacara Angin Prayitno Aji, Syaefullah Hamid menilai penetapan tersangka terhadap kliennya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tak sesuai dengan KUHAP. Menurut Syaefullah, proses penyelidikan hingga penyidikan kasus Angin bukan ranah KPK.

Angin ditetapkan sebagai tersangka penerimaan suap terkait dengan pemeriksaan perpajakan tahun 2016 dan tahun 2017 pada Direktorat Jenderal Pajak.

"Penetapan tersangka oleh KPK dilaksanakan penuh dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan KUHAP, pelaksanaan penyelidikan maupun penyidikannnya juga ternyata bukan ranah KPK. Maka Angin Prayitno Aji sebagai tersangka menggunakan salah satu haknya mengajukan praperadilan," kata Syaefullah kepada awak media, Selasa, 27 Juli 2021.

Angin sudah mengajukan praperadilan melawan KPK lantaran tak dijerat sebagai tersangka. Pihak Angin mendaftarkan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 16 Juni 2021. Menurut Syaefullah, sidang sudah berjalan dalam beberapa tahapan.

Pada sidang keempat praperadilan, menurut Syaefullah, PN Jaksel menghadirkan pihak KPK. Syaefullah mengklaim, dari hasil persidangan tersebut terlihat bahwa KPK dalam melaksanakan penyelidikan hingga penyidikan tak sesuai KUHAP.

"Terlihat bahwa dari hasil sidang-sidang tersebut termohon (KPK) dalam melaksanakan prosedur penyelidikan maupun penyidikannya tidak sesuai dengan KUHAP, sehingga penetapan tersangkanya tidak sah secara hukum," ujarnya.

Ia menambahkan, dalam sidang terbukti bahwa KPK tidak memiliki alat bukti yang cukup dalam menetapkan Angin sebagai tersangka. Karena surat perintah penyidikan (sprindik) terhadap Angi diterbitkan KPK pada 4 Februari 2021.

"Sprintdik terbit tanggal 4 Februari 2021, SPDP sekaligus penetapan tersangka tanggal 5 Februari 2021, sementara diakui oleh termohon (KPK) bahwa pemeriksaan saksi dalam penyidikan baru dimulai 22 April 2021 dan penyitaan baru dimulai 31 Maret 2021, sementara penggeledahan tanggal 10 Februari 2021, jadi semuanya dilakukan setelah penetapan tersangka," ujarnya.

Atas dasar itut, menurut Syaefullah, penetapan tersangka terhadap Angin dilakukan sebelum KPK mendapatkan bukti permulaan yang cukup. Menurut Syaefulla, justru bukti didapatkan KPK saat Angin sudah dijerat sebagai tersangka.

"Oleh karenanya penetapan tersangka tersebut tidak sah karena bertentangan dengan Pasal 1 angka 2 KUHAP dan Putusan MK No. 21/PUU-XII/2014 yang secara tegas mengatur bahwa penetapan tersangka hanya boleh dilakukan berdasarkan alat bukti yang diperoleh dalam tahap penyidikan," ujarnya.

Selain itu, lanjut Syaefullah, Angin Prayitno bukan penyelenggara negara yang dapat dijerat KPK. Menurut dia, makna penyelenggara negara sesuai pasal 2 huruf g UU Nomor 28 Tahun 1999 dijelaskan bahwa penyelenggara negara meliputi pejabat negara pada lembaga tertinggi negara; pejabat negara pada lembaga tinggi negara; menteri; gubernur; hakim; pejabat negara lainnya seperti duta besar, wakil gubernur, bupati; wali kota dan wakilnya.

Kemudian pejabat lainnya yang memiliki fungsi strategis seperti: komisaris, direksi, dan pejabat struktural pada BUMN dan BUMD; pimpinan Bank Indonesia; pimpinan perguruan tinggi; pejabat eselon I dan pejabat lainnya yang disamakan pada lingkungan sipil dan militer; jaksa; penyidik; panitera pengadilan; dan pimpinan proyek atau bendaharawan proyek.

Menurutnya, dalam Struktur organisasi Ditjen Pajak Kemenkeu, Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan, yakni jabatan Angin tidak mempunyai fungsi penegakan hukum.

"Bahwa jelas Direktur Pemeriksaan dan Penagihan bukan eselon I dan bukan penyidik," imbuhnya.

Baca juga: Diduga Terima Suap Puluhan Miliar, Angin Prayitno Lapor Harta Rp18,6 M

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel