Pengacara: KliennyaTak Tahu Lokasi LP Cebongan

TEMPO.CO, Yogyakarta - Tiga terdakwa kasus pembunuhan empat tahanan di LP Cebongan, Sleman, Yogyakarta membantah pembunuhan yang mereka lakukan merupakan tindakan terencana. "Mereka tidak berencana datang ke lapas. Tindakan itu dilakukan seketika setelah mendapat  info dari masyarakat bahwa preman yang membunuh Serka Heru Santoso ada di Lapas," kata Letnan Kolonel Rokhmat, kuasa hukum tiga terdakwa berkas pertama dalam sidang eksepsi di Pengadilan Militer II-11 Yogyakata Senin 24 Juni 2013.

Sebelumnya Oditur Militer dalam dakwaannya menyebutkan, terdakwa, Serda Ucok Tigor Simbolon membunuh empat tahanan itu dengan senjata AK 47, dan senjata api yang dibawa terdakwa Serda Sugeng Sumaryanto. Keduanya bersama Kopral Satu Kodik lewat kuasa hukumnya mengajukan eksepsi terhadap dakwaan Oditur. Menurut Rokhmat, Oditur   tak mengurai pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat (1)  KUHP, tentang pembunuhan bersama-sama dan berencana.

Menurut Rokhmat, kliennya tak tahu lokasi LP Cebongan. Selain itu, ketika masuk ke ruang Angrek sel A5, Ucok malah bertanya kepada semua tahanan tentang identitas kelompok Deki, sasaran mereka. "Dari analisis kemampuan militer, perbuatan terdakwa juga tidak mencerminkan perencanaan," kata Rokhmat. Selain itu, ujarnya, peristiwa berlangsung relatif lama. Menurut dia, kalau tindakan itu direncanakan, aksi penyerangan sangat cepat. »Karena mereka pasukan terlatih dan berpengalaman dalam tugas operasi militer.”

Pada persidangan berkas kedua, penasihat hukum 5 terdakwa penyerangan LP Cebongan menilai dakwaan oditur kabur. Sebab, oditur tak menyebut peran masing-masing terdakwa secara rinci. Lima terdakwa itu adalah Sertu Tri Juwanto, Sertu Anjar Rahmanto, Sertu Martinus Roberto Paulus, Sertu Suprapto dan Sertu Erman Siswoyo.

Sangkalan terhadap dakwaan Oditur juga disampaikan tiga terdakwa, Sersan Mayor Rokhmadi, Sersan Mayor Muhammad Zaenuri, dan Sersan Kepala Sutar. Penasihat hukum terdakwa, Letkol (Chk) Yaya Supriyadi, malah mempertanyakan siapa pimpinan kliennya. »Kalau tidak lapor ke pimpinan, (pemimpin) itu siapa," kata Yaya Supriadi.  

Dalam dakwaan Oditur terdakwa Mayor Rokhmadi dan Sersan Mayor  Muhammad Zaenuri mengetahui pergerakan 9 anggota Kopassus ke Yogyakarta. Mereka mencari dua mobil anggota Kopassus yang keluar pada Jumat, 22 Maret malam lalu di Polres Sleman dan Polda DIY, tapi gagal. Mereka melapor kepada terdakwa ketiga, Sersan Kepala Sutar, bahwa situasi aman.

Majelis hakim sepakat melanjutkan sidang berupa tanggapan Oditur terhadap eksepsi terdakwa pada Rabu 26 Juni 2013.

MUH SYAIFULLAH | SHINTA MAHARANI

Topik Terhangat

Razia Bobotoh Persib | Puncak HUT Jakarta | Penyaluran BLSM

Baca Juga:

Faktor Pemenang Ridwan Kamil di Pilkada Bandung

4 Sebab Popularitas Jokowi Melebihi Prabowo & Mega 

Penumpang Mobil Pelat B Tewas Dilempar Batu 

Arsenal Sodorkan Kontrak Kepada 'Tukang Pos' 

Luthfi Beli Mobil dan Rumah Rp 1 Miliar dari Hilmi

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.