Pengadilan Filipina vonis enam tahun penjara pimpinan situs berita rappler.com

MANILA (Reuters) - Pimpinan situs berita Filipina yang terkenal secara ketat mengawasi Presiden Rodrigo Duterte menghadapi hukuman enam tahun penjara setelah dinyatakan bersalah atas pencemaran nama baik di dunia maya oleh pengadilan Manila pada Senin.

Kasus itu dianggap sebagai ujian bagi kebebasan media di negara tersebut.

Maria Ressa, kepala eksekutif Rappler (www.rappler.com) sekaligus mantan jurnalis CNN, didakwa dengan pencemaran nama baik di dunia maya terkait sebuah artikel 2012, yang mengaitkan seorang pengusaha dengan kegiatan ilegal.

Usai menjatuhkan vonis pada Senin, Hakim Rainelda Estacio-Montesa mengatakan: "Pelaksanaan kebebasan seharusnya dan harus digunakan dengan memperhatikan kebebasan yang lain."

Ressa, yang memiliki kewarganegaraan ganda AS, menghadapi enam tahun penjara, kata hakim.

"Keputusan tersebut bagi saya sangat menghancurkan sebab pada dasarnya mengatakan kami di Rappler salah," kata Ressa, yang diizinkan memberikan jaminan sambil menunggu banding.

Reynaldo Santos, mantan peneliti sekaligus penulis Rappler, juga dinyatakan bersalah dalam kasus tersebut.

"Ini adalah hari yang kelam, tidak hanya untuk media independen Filipina tetapi untuk semua rakyat Filipina. Vonis pada dasarnya membunuh kebebasan berbicara dan pers," ucap Serikat Jurnalis Nasional Filipina melalui unggahan di media sosial.

Pengusaha Wilfredo Keng hadir dalam tulisan Rappler 2012, diperbarui pada 2014, yang menghubungkannya dengan kegiatan ilegal, mengutip informasi yang terdapat di dalam laporan intelijen dari agen yang tak ditentukan.

Dalam pengaduannya, Keng menyebutkan tulisan Rappler termasuk "tuduhan kriminal, perbuatan jahat, dan cacat."

Pencemaran nama baik di dunia maya menjadi salah satu tuntutan yang diajukan terhadap Ressa dan Rappler, yang menuai keprihatinan global soal media yang bebas dan terbuka di negara Asia Tenggara tersebut.

Izin operasi Rappler dibatalkan pada 2018 atas dugaan pelanggaran kepemilikan asing. Pihaknya juga berurusan dengan kasus yang melibatkan dugaan penggelapan pajak. Kedua kasus itu hingga kini masih bergulir.

Para pengamat media menyebutkan tuduhan terhadap Ressa direkayasa dan bertujuan mengintimidasi mereka yang menentang aturan Duterte, terutama tindakan mematikannya dalam memerangi narkoba. Duterte mengecam situs berita tersebut dalam sejumlah pidato publik.