Pengadilan Jerman dijadwalkan menjatuhkan vonis atas kejahatan anti-semit

·Bacaan 3 menit

Magdeburg (AFP) - Pengadilan Jerman akan menjatuhkan putusannya pada Senin atas serangan mematikan dari kelompok sayap kanan di Halle tahun lalu yang hampir menjadi kekejaman anti-Semit terburuk di negara itu sejak Perang Dunia II.

Pintu yang terkunci di sebuah sinagoga kota bagian timur dengan 52 jamaah di dalamnya yang merayakan Yad Vashem, hari paling suci dalam tahun Yahudi, adalah satu-satunya hal yang mencegah penyerang bersenjata berat melakukan rencana aksi berdarahnya, kata jaksa penuntut.

Setelah gagal menyerbu sinagoga pada 9 Oktober 2019, penyerang menembak mati seorang wanita yang lewat dan seorang pria di toko kebab sebagai gantinya.

Selama persidangan lima bulan, terdakwa sayap kanan Stephan Balliet, 28, telah membantah terjadinya Holocaust di pengadilan terbuka - sebuah kejahatan di Jerman - dan tidak menyatakan penyesalan kepada mereka yang menjadi target, banyak di antaranya adalah penggugat bersama dalam kasus tersebut.

"Serangan terhadap sinagoga di Halle adalah salah satu tindakan anti-Semit paling menjijikkan sejak Perang Dunia II," kata jaksa Kai Lohse di pengadilan di Kota Magdeburg saat persidangan selesai.

Jaksa menuntut penjara seumur hidup untuk Balliet. Tim pembelanya hanya meminta hakim ketua Ursula Mertens untuk menjatuhkan "hukuman yang adil".

Lohse mengatakan Balliet telah bertindak atas dasar "ideologi rasis, xenofobia, dan anti-Semit" untuk melakukan serangan tidak hanya terhadap mereka yang dia bunuh tetapi juga pada "kehidupan Yahudi di Jerman secara keseluruhan".

Peristiwa yang terjadi seperti "mimpi buruk", tambahnya.

"Di akhir mimpi buruk ini, pelaku membunuh dua orang dan melukai serta membuat trauma banyak orang lainnya."

Selama persidangan, Balliet bersikeras bahwa "menyerang sinagoga bukanlah kesalahan, mereka adalah musuh saya".

Mengenakan pakaian militer, dia memfilmkan serangan itu dan menyiarkannya di internet, mengawalinya dengan manifesto yang mendukung ideologi misoginis dan neo-fasisnya.

Serangan tersebut memiliki beberapa ciri khas dari dua serangan yang dilakukan dan juga disiarkan langsung beberapa bulan sebelumnya di Christchurch, Selandia Baru oleh Brenton Tarrant, yang menewaskan 51 orang.

Balliet menyebut Tarrant sebagai inspirasi. Dia telah didakwa dengan dua dakwaan pembunuhan dan banyak dakwaan percobaan pembunuhan dalam kasus yang telah sangat mengguncang negara dan memicu kekhawatiran tentang meningkatnya ekstremisme sayap kanan dan kekerasan anti-Yahudi, 75 tahun setelah berakhirnya era Nazi.

Duta Besar Israel untuk Jerman, Jeremy Issacharoff, menyebut serangan itu "saat yang sangat, sangat mengkhawatirkan dalam sejarah Jerman".

"Jika orang itu bisa masuk ke sinagoga ... itu akan berdampak luar biasa pada identitas Jerman setelah perang dan perang melawan anti-Semitisme," katanya kepada AFP dalam sebuah wawancara.

"Saya berharap dan percaya bahwa pengadilan Jerman akan melakukan hal yang benar dan membuat keputusan yang tepat. Anti-Semitisme memang merupakan fenomena yang menyerang esensi demokrasi Jerman dan saya pikir itulah hal yang sangat penting untuk dilindungi."

Orang penting pemerintah melawan anti-Semitisme, Felix Klein, menyebut persidangan itu sebagai "kesempatan yang baik untuk memunculkan perdebatan di masyarakat tentang anti-Semitisme".

Kejahatan yang menarget orang Yahudi dan keyakinan mereka terus meningkat di Jerman dalam beberapa tahun terakhir, dengan 2.032 serangan tercatat pada 2019, naik 13 persen dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, serangkaian serangan teroris sayap kanan telah mengejutkan Jerman termasuk pembunuhan politisi pro-pengungsi Walter Luebcke di rumahnya pada Juni 2019 dan pembunuhan sembilan orang migran di kota barat Hanau pada Februari.

Baillet "menggambarkan tembakan fatal yang ditembakkan ke dua korbannya di Halle dengan tanpa emosi" dan tampak kecewa karena ia telah gagal untuk memasuki sinagoga, kata psikiater Norbert Leygraf tentang terdakwa dalam sebuah evaluasi.

Dia mengatakan Balliet menderita gejala skizofrenia, paranoia dan autisme yang membuatnya tidak memiliki "empati dengan orang lain" dan merasa "lebih unggul dari orang lain".