Pengajuan Kredit Diprediksi Tak Turun Meski Suku Bunga Acuan Naik

Merdeka.com - Merdeka.com - Bank Indonesia memutuskan untuk menaikan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps), dari sebelumnya 3,75 persen, menjadi 4,25 persen. Kenaikan ini dipastikan berdampak terhadap seluruh lini sektor.

Meski terdapat konsekuensi atas kenaikan suku bunga acuan, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi memastikan pengajuan kredit oleh perusahaan ke perbankan tidak akan menurun.

"Perusahaan semuanya berjalan, tanpa perbankan tidak mungkin mereka berjalan," ujar Ibrahim kepada merdeka.com, Jumat (23/9).

Meski kondisi saat ini dipastikan menambah beban bagi seluruh masyarakat termasuk perusahaan, namun secara prinsip, perusahaan tetap membutuhkan cash flow untuk keberlangsungan satu usaha.

"Jadi intinya pengusaha-pengusaha saat ini itu yang penting karyawannya digaji masalah buntung itu udah pasti buntung," ujarnya.

Menurut Ibrahim, risiko seperti ini merupakan risiko lumrah dalam bisnis. Sehingga, mau tidak mau pengajuan kredit ke perbankan hampir dipastikan tidak akan menurun.

Lagipula, imbuh Ibrahim, perbankan memiliki otonom kebijakan terhadap pemberian bunga bagi para kreditur atau nasabah. Jika BI menaikan suku bunga acuan, menurut Ibrahim hal tersebut tak lantas membuat perbankan menaikan suku bunga pinjaman kepada kreditur.

"Perbankan pun hati-hati karena ini merupakan pendapatan mereka dan menurut saya perbankan tetap tumbuh dalam menyalurkan kredit bahkan banyak orang yang minta kredit itu enggak dikasih-kasih saking banyaknya," pungkasnya.

Sisi Positif Menurut Bank Indonesia

Sementara itu, menurut BI sisi positif atas kenaikan suku bunga acuan yaitu;

1. Menguatnya sinyal kebijakan moneter dengan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebagai acuan utama di pasar keuangan.

2. Meningkatnya efektivitas transmisi kebijakan moneter melalui pengaruhnya pada pergerakan suku bunga pasar uang dan suku bunga perbankan.

3. Terbentuknya pasar keuangan yang lebih dalam, khususnya transaksi dan pembentukan struktur suku bunga di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) untuk tenor 3-12 bulan.

Sedangkan menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menyampaikan, adanya kenaikan suku bunga secara otomatis akan menambah alokasi anggaran yang harus dikeluarkan masyarakat yang memiliki kredit atau pinjaman untuk usaha.

Diprediksi, beberapa bulan ke depan merupakan masa-masa gelap yang harus dijalani pemilik kredit.

"Untuk kredit konsumsi seperti KPR dan kredit kendaraan bermotor dalam beberapa bulan ke depan akan memasuki awan cukup gelap. Bank harus bersiap cari cara agar nasabah KPR masih tertarik meminjam," ujar Bhima. [idr]