Pengakuan Pangeran Harry Bikin Geger Afghanistan, Picu Kemarahan dan Demo

Merdeka.com - Merdeka.com - Pengakuan Pangeran Harry dalam memoarnya membuat geger di Afghanistan.
Dalam buku berjudul "Spare" itu, Harry mengaku membunuh 25 anggota Taliban saat menjalankan tugas militer di Afghanistan. Namun Taliban mengatakan 25 orang yang dibunuh Harry bukan pejuang Taliban melainkan warga sipil.

Warga Afghanistan melakukan unjuk rasa pada Minggu memprotes pernyataan pangeran Inggris tersebut.

Dikutip dari Al Arabiya, Senin (9/1), mahasiswa berunjuk rasa di universitas di Provinsi Helmand, di mana pasukan Inggris ditempatkan selama operasi militer yang dipimpin NATO dan Amerika Serikat di Afghanistan beberapa tahun lalu.

"Kami mengecam tindakannya (Harry) yang bertentangan dengan seluruh norma kemanusiaan," jelas salah satu demonstran.

Demonstran yang lain membawa poster bergambar Pangeran Harry dengan tanda 'X' merah.

Salah satu dosen di Helmand, Sayed Ahmad Sayed juga mengecam Pangeran Harry atas perannya dalam operasi militer Inggris di Afghanistan.

"Kekejaman yang dilakukan Pangeran Harry, kawan-kawannya, atau siapapun di Helmand atau di manapun di Afghanistan tidak dapat diterima, kejam. Tindakan-tindakan ini akan diingat sejarah," kata Sayed yang juga ikut demo.

Pasukan asing di Afghanistan ditarik pada Agustus 2021 setelah 20 tahun perang dan kemudian Taliban kembali berkuasa.

Dalam memoarnya, Harry mengaku membunuh 25 militan Taliban saat menjadi kopilot helikopter penyerang Apache di Afghanistan pada tahun 2012-2013.

Dia menulis, dia tidak merasa puas atau malu dengan tindakannya, dan mengatakan rasanya seperti menyingkirkan bidak-bidak dari papan catur.

Pernyataan Harry dalam buku itu juga dikecam pimpinan Taliban.

"Kami meminta komunitas internasional untuk mengadili orang ini (Harry), dan kami harus mendapatkan kompensasi atas kehilangan kami," kata Mullah Abdullah, yang kehilangan empat anggota keluarga dalam serangan udara Inggris pada 2011 yang menghantam rumah keluarganya di Nahr-e-Saraj, Helmand.

"Kami kehilangan rumah, hidup, dan anggota keluarga kami. Kami kehilangan mata pencaharian dan juga orang-orang terkasih kami," lanjut Abdullah saat mengunjungi makam anggota keluarganya yang tewas dalam serangan tersebut.

Sementara itu, direktur media di kantor Gubernur Helmand, Mawlavi Mohammad Qasim mengatakan pengakuan Harry dalam memoarnya itu "mengungkap wajah asli dunia Barat".

"Itu indikasi yang jelas tindakan kejam dan mengerikan mereka," pungkas Qasim. [pan]