Pengakuan Pekerja Goldman Sachs: Kerja 95 Jam Seminggu hingga Kesehatan Mental Memburuk

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Sebuah survei perihal tempat kerja digelar terhadap sekelompok analis junior di Goldman Sachs. Hasil yang ditemukan mungkin akan membuat Anda merasa jauh lebih baik tentang pekerjaan yang saat ini dimiliki.

Hasilnya, sekitar selusin analis tahun pertama Goldman Sachs mengatakan mereka bekerja rata-rata lebih dari 95 jam seminggu, tidur hanya lima jam semalam, dan menanggung perlakuan buruk di tempat kerja.

Mayoritas dari mereka mengaku kesehatan mentalnya memburuk drastis sejak mulai bekerja di bank investasi tersebut.

"Ada titik di mana saya tidak makan, mandi, atau melakukan hal lain selain bekerja dari pagi hingga lewat tengah malam," kata seorang analis dalam laporan itu sebagaimana dikutip dari CNN pada Jumat (19/3/2021).

Survei tersebut berasal dari kelompok yang dipilih sendiri yang terdiri dari 13 analis di tahun pertama yang mempresentasikan temuan kepada manajemen pada Februari, kata juru bicara bank.

Hasil survei dari para analis mulai beredar di media sosial minggu ini dan sebelumnya diberitakan oleh Bloomberg News.

Bank ini kemudian merespon dengan mengatakan akan mendengar kekhawatiran karyawannya dan berupaya menemukan solusi.

"Kami menyadari bahwa (pegawai) kami sangat sibuk, karena bisnis (ini) keras dan volume berada pada tingkat yang bersejarah," ucap bank itu dalam sebuah pernyataan.

"Setahun setelah Covid, orang-orang memang cukup tegang, dan itulah mengapa kami mendengarkan kekhawatiran mereka dan mengambil banyak langkah untuk mengatasinya," tambahnya.

Hanya sedikit orang yang mampu memasuki dunia perbankan Wall Street dan tetap mengharapkan kehidupan kerja nine-to-five. Para analis dalam survei sendiri pada dasarnya memohon kepada atasan mereka untuk membatasi jam kerja mingguan menjadi 80 jam.

"Ini di luar tingkat 'pekerja keras'," kata salah seorang diantaranya. "Ini tidak manusiawi."

Merusak hubungan mereka dengan teman dan keluarga

perempuan stres bekerja/copyright By weedezign (Shutterstock)
perempuan stres bekerja/copyright By weedezign (Shutterstock)

Seratus persen responden mengatakan jam kerja mereka telah merusak hubungan mereka dengan teman dan keluarga.

Sekitar tiga perempat analis mengatakan bahwa mereka merasa telah menjadi korban dari perlakuan buruk di tempat kerja dan telah mencari atau mempertimbangkan untuk mencari bantuan atas masalah kesehatan mental.

"Tubuh saya secara fisik sakit sepanjang waktu dan secara mental saya berada di tempat yang sangat gelap," tulis seorang analis dalam survei tersebut.

Hampir semua analis mengatakan mereka merasakan tekanan dari "tenggat waktu yang tidak realistis" dan telah dijauhi atau diabaikan dalam rapat. Laporan mereka juga menawarkan solusi kepada manajemen untuk membantu memperbaiki situasi.

"Untuk melakukan pekerjaan terbaik kami dan memberikan hasil untuk klien perusahaan, kami perlu istirahat dan terbebas dari masalah arus kerja yang bentrok dalam jumlah yang tidak dapat diatasi,” kata kelompok itu.

Meskipun bank-bank Wall Street dan Goldman khususnya, dikenal dengan gaji yang sangat tinggi dan bahkan bonus yang lebih tinggi, tampaknya hal itu tidak selalu terjadi pada analis tahun pertama yang menjadi bagian terbawah dari rantai makanan di dunia finansial.

Seorang juru bicara Goldman menolak berkomentar tentang kompensasi. Namun, sebuah laporan dari Business Insider tahun lalu memperkirakan analis bank investasi tahun pertama di Goldman dan perusahaan top lainnya dapat mengharapkan gaji pokok sekitar US$ 91.000.

Keluhan dalam survei tersebut bertentangan dengan citra yang lebih santai yang ingin ditampilkan oleh bank-bank Wall Street dalam beberapa tahun terakhir. Pembentukan citra tersebut sebagai imbas dari meningkatnya persaingan untuk mendapatkan bakat terbaik dari Silicon Valley, bank-bank besar bahkan telah melonggarkan kode berpakaian formal mereka dan memperluas kebijakan cuti keluarga.

Goldman juga berusaha untuk melindungi akhir pekan bankir junior dengan program yang disebut "Saturday rule" yang mengamanatkan analis keluar dari kantor dari jam 9 malam di hari Jumat sampai jam 9 pagi hari Minggu, kecuali dalam keadaan yang jarang terjadi. Namun, aturan dalam program itu, menurut analis dalam survei, tidak selalu dipatuhi.

Reporter: Priscilla Dewi Kirana

Saksikan Video Ini