Pengakuan Pilu Demi Lovato, Kehilangan Keperawanan karena Pemerkosaan di Usia 15 Tahun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Los Angeles - Demi Lovato mengungkap banyak hal yang selama ini tertutupi dari mata publik dalam dokumenter mengenai dirinya. Tak hanya soal overdosis yang alami pada 2018, di serial dokumenter bertajuk Demi Lovato: Dancing With the Devil ini ia menguak pengalaman traumatis saat remaja.

"Aku kehilangan keperawanan dalam sebuah pemerkosaan," tutur pelantun "Sober" ini dalam serial dokumenter yang diputar di SXSW Film Festival, seperti diwartakan People pada Rabu (17/3/2021).

Dalam tayangan yang juga akan dirilis di YouTube 23 Maret 2021, Demi Lovato mengakui ia dan sang pelaku sebenarnya saling tertarik. Namun, ia saat itu sebenarnya telah menyatakan dengan jelas bahwa dirinya belum siap berhubungan intim.

Mengaku Tetap Perawan

Demi Lovato. ( Evan Agostini/Invision/AP)
Demi Lovato. ( Evan Agostini/Invision/AP)

Diwartakan E! News, pada waktu yang sama, Demi Lovato juga mendapat tekanan untuk menjaga citranya.

"Aku adalah bagian dari orang-orang di Disney yang di depan publik berkata bahwa mereka akan menunggu (untuk berhubungan seks) sampai menikah. Aku tak punya saat pertama yang romantis," ungkapnya.

Aktor

Demi Lovato (John Salangsang/Invision/AP)
Demi Lovato (John Salangsang/Invision/AP)

Ini diperparah karena ia sering bertemu dengan sang pelaku. Tak tahan, ia kemudian melapor kepada orang dewasa. Namun sang pelaku tak mendapat ganjaran apa pun. Pengakuan Demi selanjutnya memberi petunjuk bahwa pelaku adalah seorang aktor.

"Mereka tak pernah mengeluarkannya dari film yang ia bintangi," ujar Demi.

Menghubungi Pelaku

Demi Lovato (Jamie McCarthy / AFP)
Demi Lovato (Jamie McCarthy / AFP)

Tragedi traumatis ini, kembali terulang di pikirannya, terkait kejadian pada malam overdosis. Seperti diketahui, Demi Lovato mengatakan bandar narkobanya memanfaatkan kondisi saat dirinya tak sadar di bawah pengaruh narkoba, untuk menidurinya.

Dalam dua kejadian ini, Demi Lovato melakukan satu hal serupa. Yakni menghubungi sang pelaku dan berbohong dengan mengatakan ia setuju melakukan ini. Ia menyangka, hal ini akan memulihkan kondisi mentalnya.

Merasa Lebih Buruk

"Aku menelepon orang ini sebulan kemudian dan mencoba membetulkan keadaan dengan (mengatakan) bahwa aku masih punya kontrol dalam situasi itu, tapi justru hanya membuatku merasa lebih buruk," kata dia, soal kejadian 13 tahun lalu tersebut.

"Dua kejadian ini adalah reka ulang dari trauma, dan bertahun-tahun aku terus menyalahkan diriku. Dan inilah mengapa sulit sekali bagiku mengakui bahwa faktanya kejadian itu terjadi sebagai sebuah pemerkosaan," kata Demi.