Pengakuan tukang sate ditangkap usai telepon nomor HP sendiri

MERDEKA.COM. "Ada apa ini, ada apa ini. Saya bukan penjahat," kata Slamet Riyadi (26) dengan logat Jawa Tegalnya.

Ya, Rabu (10/04), sepertinya akan menjadi hari yang selalu diingat pria yang juga tukang sate ini. Sebab, hari itu sekitar pukul 17.00 WIB, Slamet tiba-tiba digrebek oleh tim buser unit ranmor Polresta Bekasi Kota, karena diduga ikut komplotan pencurian kendaraan bermotor (Curanmor).

Perasaan kaget dan panik berada di benaknya saat itu. Pasalnya, ketika sedang asik siap-siap membuka warung sate, tiba-tiba tim buser dengan pakaian preman langsung menangkapnya.

Beruntung, Slamet tidak dijebloskan ke penjara. Karena, tukang sate di Jalan Kartini, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi ini merupakan korban salah tangkap aparat kepolisian. Setelah diketahui, Slamet pun akhirnya dilepaskan.

"Mereka bilang dari polisi, saya nggak tahu apa-apa. Saya bingung ada apa ini. Kemudian saya dibawa," terang anak bungsu dari dua bersaudara ini.

Slamet menceritakan, awalnya dia kehilangan satu unit handphone jenis Cross miliknya. Telepon selulernya hilang dari meja rumah kontrakannya saat di-carghe.

Ternyata alat komunikasinya itu dicuri oleh Dewo alias Joko (17) dan rekan tersangka Sugiantoro (33) saat rumah kontrakannya sepi. "HP saya hilang, baru ingat sebelumnya ada orang mencurigakan di depan kontrakan. Ternyata itu pencuri," kata pria yang sudah dua tahun menjadi tukang sate ini.

Dikatakan dia, peristiwa pencurian itu terjadi saat hendak makan siang. Usai membeli lauk, Slamet memergoki dua orang berada di depan rumahnya. Ketika ditegur, para pelaku mengaku ingin mencari rumah kontrakan.

Lantaran curiga, kemudian dia memeriksa barang-barangnya. Hasilnya, satu unit HP miliknya raib dari atas meja. Slamet pun, kemudian memburu dua orang pelaku tersebut.

"Saya cari ketemu, tapi mereka (pelaku) nggak ngaku. Kemudian saya lepaskan lagi," jelasnya.

Berkali-kali dia mencoba menghubungi nomornya. HP miliknya sudah tak aktif lagi. Akhirnya dia pun mengikhlaskannya. "Saya sudah pasrah, diikhlaskan saja," sambungnya.

Sekitar pukul 17.00 WIB, Slamet mencoba menelepon kembali, kebetulan saat itu HP-nya sudah aktif lagi. Sayang, yang mengangkat teleponnya anggota polisi.

"Saya telepon nyambung, pertama dengar suara gaduh. Sampai lima kali saya menelepon. Terakhir, Saya bilang, HP saya dimana? Saya minta dibalikin. Kemudian kami janjian," lanjut Slamet.

Petugas pun sepakat, karena akan menangkap penjahat hasil pengembangan pasca tertangkapnya Dewo bin Joko oleh massa ketika mencuri sepeda motor Yamaha Mio B 6640 FZU milik Siti Fauziah (27) di Jalan M Hasibuan, Margahayu, Bekasi Timur.

Sedangkan, Slamet menunggu di lapak tempat ia bekerja. Berselang beberapa menit kemudian, dia kaget yang datang malah aparat kepolisian. Slamet pun ditangkap.

"Saya dibawa ke kantor SatPol PP, saya diinterogasi. Padahal saya nggak tahu apa-apa, orang HP saya malah yang hilang," sambungnya heran.

Meski sudah dijelaskan, namun petugas tetap keukeuh tidak percaya. Bahkan, ketika dia dipertemukan dengan pelaku, Slamet langsung mengaku jika pelaku itu yang mengambil HPnya dari rumah kontrakannya. "Teman-teman saya panik semua, kemudian saya dibawa ke Polres," ujarnya.

Untuk membuat petugas percaya, Slamet dan teman-temannya sampai meminta ketua RT dan RW serta membawa kardus tempat HPnya ke kantor Polresta Bekasi Kota. "Semua hadir di sini, baru percaya, kalau saya juga korban pencurian, bukan pelaku. Saya hanya diinterogasi saja, nggak sampai mendapat kekerasan dari polisi," tandasnya.

Atas insiden itu pun polisi meminta maaf, karena Slamet juga menjadi korban, pihak Kepolisian memintanya untuk menjadi saksi yang memberatkan dua orang pelaku yang sudah ditangkap. Sedangkan, HP miliknya saat ini dibuat barang bukti hasil kejahatan pelaku.

Baca juga:
Maling mulai berani colong benda sakral di Pura Bali
Tukang sate ditangkap usai telepon ke nomor HP sendiri
Tertangkap mencuri, Fajar terancam menikah di penjara

Topik Pilihan:
Polisi Kriminal | Mutasi Polri | Pelecehan seksual | Presiden SBY | Eyang Subur

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.