Pengakuan Warga soal Hujan Es di Yogyakarta: Sebesar Kerikil

Fikri Halim, Cahyo Edi (Yogyakarta)
·Bacaan 2 menit

VIVAHujan es terjadi di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, Rabu, 3 Maret 2021. Hujan es ini terjadi sekitar pukul 13.00 WIB dengan diiringi hujan intensitas tinggi disertai angin kencang.

Berdasarkan data laporan situasi Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) wilayah yang terkena hujan es diantaranya berada di Jogoyudan, Jetis dan Danurejan, Kota Yogyakarta. Sementara di daerah Sleman terjadi di Turi, Triharjo dan Jalan Kaliurang.

Salah seorang pengunjung warung kopi di daerah Tukangan, Adam menuturkan bahwa hujan es terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Adam menerangkan, awalnya hanya turun hujan dengan intensitas tinggi. Setelahnya baru disusul hujan es.

Adam mengaku menyadari terjadinya hujan es karena ada suara seperti kerikil jatuh di atas atap warung kopi yang berbahan asbes. Saat dicek ternyata betul hujan es terjadi.

"Tadi hujan es. Di atas atap (berbahan asbes) tiba-tiba ada suara seperti dilempari batu kecil-kecil. Kejadiannya sekitar lima menit," kata Adam.

Sementara warga Turi, Sleman, Raditya menjabarkan di daerahnya juga sempat terjadi hujan es. Hujan es ini berukuran seperti kerikil-kerikil kecil.

"Tadi sempat hujan es. Saya sempat mengambil esnya. Ukurannya seperti kerikil kecil-kecil," kata Raditya.

Diberitakan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG) Yogyakarta membenarkan terjadinya hujan es di sejumlah wilayah di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu siang, yang disebabkan pertumbuhan awan cumulonimbus.

"Betul, terpantau telah terjadi hujan es di Kecamatan Turi (Sleman) dan Kota Yogyakarta," kata Kepala Stasiun Klimatologi Sleman, Reni Kraningtyas melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Rabu.

Menurut Reni, hujan es masih berpotensi tinggi terjadi selama musim hujan, khususnya pada saat pancaroba.

"Hujan es ini sifatnya sangat lokal (radius 2 km) yang disebabkan oleh pertumbuhan awan cumulonimbus lebih dari 10 kilometer," kata dia.

Reni menjelaskan saat udara hangat, lembab, dan labil di permukaan bumi maka pengaruh pemanasan bumi yang intensif akibat radiasi matahari akan mengangkat massa udara tersebut ke atmosfer yang kemudian mengalami pendinginan.

Setelah terjadi kondensasi selanjutnya akan terbentuk titik-titik air yang terlihat sebagai awan cumulonimbus (Cb).

Karena kuatnya energi dorongan ke atas saat terjadi proses konveksi maka puncak awan sangat tinggi hingga sampai freezing level yang selanjutnya terbentuk kristal-kristal es dengan ukuran yang cukup besar.

"Saat awan sudah masak dan tidak mampu menahan berat uap air, terjadi hujan lebat disertai es. Es yang turun ini bergesekan dengan udara sehingga mencair dan ketika sampai permukaan tanah ukurannya lebih kecil," kata dia.