Pengalaman Berlibur ke Danau Ranau Lampung yang Tak Terlupakan

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: Rosetti Syarief

Danau terbesar kedua di Sumatera yang terletak di ujung provinsi Lampung adalah sebuah destinasi yang sudah sejak lama aku dan keluargaku ingin kunjungi. Namun karena tempatnya yang cukup jauh dari kotaku, sekitar 8 jam perjalanan darat, itu hanya disimpan sebagai wacana sampai aku meninggalkan rumah karena melanjutkan pendidikanku ke luar kota.

Pada maret 2020, aku harus kembali ke Lampung dari kota tempat aku belajar karena pandemi covid-19 dan universitasku mengumumkan libur untuk karantina di rumah masing-masing selama 2 bulan. Namun nyatanya, sampai mendekati bulan-bulan pergantian tahun, titik terang untuk kembali kuliah dan berakhirnya pandemi tidak kunjung terlihat.

Rasa jenuh, bosan, namun ketakutan tentu menghantui semua orang pada saat itu, termasuk juga denganku. Sampai pada akhir bulan Agustus, sekaligus perayaan libur semester kuliah dan sekolah adik-adikku, ayahku akhirnya mantap kembali merencanakan liburan kami ke Danau Ranau yang wacananya disiapkan sejak satu tahun yang lalu.

Kami sangat hati-hati saat melakukan perjalan tersebut. Sebelum dan sesudah berangkat juga kami melakukan tes rapid antigen dan alhamdulillah hasilnya nonreaktif. Selama perjalanan 8 jam melalui darat itu pun, kami tidak berhenti di rest area dan juga rumah makan untuk sekedar beristirahat.

Melepas Jenuh

Ke Danau Ranau./Copyright Rosetti Syarief
Ke Danau Ranau./Copyright Rosetti Syarief

Kami hanya berhenti saat waktu sholat dan saat makan itu pun di mobil dengan bekal yang ibu dan aku buat di pagi harinya. Kami sangat menghormati pemerintah, tentu kami juga sangat menaati protokol yang dibuat. Perjalanan 8 jam ini, terasa sangat berbeda dengan perjalanan jauh yang ditempuh sebelumnya. Terasa seperti memasuki dunia baru, dengan peraturan baru, dan suasana berbeda ya sebelumnya belum pernah kami rasakan.

Kami sampai di vila sekitar pukul 5 sore. Vila yang kami pilih untuk singgah pada saat itu adalah villa Putri Gunung, karena tempatnya yang bagus dan lokasinya yang berada tepat di depan danau. Karena waktu sudah terlalu sore, kami memutuskan untuk beristirahat dulu malam itu tanpa melakukan perjalanan apapun.

Keesokan harinya, setelah sholat subuh dan sedikit bermalas-malasan, sekitar pukul 6 pagi aku dan keluargaku mencari makan di sekitar danau. Sebenarnya sudah ada sarapan yang disiapkan di villa, hanya saja kami memilih berkeliling sekalian menikmati suasana desa. Aku dan ibuku memesan nasi goreng di tempat makan yang terletak persis di depan danau. Sedangkan ayah dan kedua adikku pergi mencari rumah makan padang.

Satu hal yang yang membuat aku terkejut saat berkeliling, di sekitar sana, tidak ada satupun warga yang menggunakan masker saat keluar rumah. Tempat duduk di rumah makan yang aku dan ibuku singgahi pun tidak mengharuskan kami untuk duduk berjaga jarak. Apakah karena Danau Ranau terletak di sebuah desa? Entahlah, aku sama sekali tidak membenarkan hal itu. Masyarakat di mana pun, tanpa pengecualian, harus tetap menaati protokol kesehatan demi kepentingan bersama. Ngomong-ngomong soal sarapan, pemandangan di depan kamar villaku sangat cantik di pagi hari. Udara juga bersih dan terasa segar.

Setelah sarapan, kami sekeluarga pergi menyeberangi danau dengan menggunakan perahu untuk mandi di air belerang. Aku bermain air cukup lama, bahkan kulitku terasa terbakar setelahnya karena mandi di air belerang benar-benar membuatku lupa waktu. Aku tidak sadar dengan cuaca yang sudah berubah menjadi siang yang terik.

Sebenarnya kalau diingat-ingat, tidak ada yang terlalu spesial dari tempat itu. Hanya saya suasana liburan saat pandemi itu menjadi pengalaman sendiri bagiku dan tentu juga keluargaku, karena ini pertama kalinya bagi kami. Pola pikir dan kebiasaan masyarakat di sana juga menjadi perbedaan drastis yang aku temui. Di kotaku, hampir tidak ada orang yang tidak menggunakan masker saat bepergian. Bahkan tukang becak yang aku lihat di jalan pun, mereka menggunakan masker saat mengayuh becaknya. Namun aku tidak bisa berbuat banyak, karena aku hanya pendatang.

Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga diri kita dan menjadi contoh yang baik untuk orang lain. Jika mereka tidak ingin menaati protokol kesehatan, jadi taatilah protokol itu untuk melindungi dirimu. Itulah pengalaman liburanku saat pandemi. Liburan yang singkat memang, karena kedua orang tuaku masih harus bekerja keesokan harinya. Jadi aku hanya menginap dua malam di villa, kemudian kembali menikmati perjalanan 8 jam yang panjang. Namun setelah mandi air belerang itu, sore harinya kami pergi ke pasar sih, hanya untuk merasakan suasananya.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel