Pengalaman KKN saat Ramadan, Hadirkan Makna Puasa yang Tak Terlupakan

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Juwari Candra Dewi

Saat itu puasa di bulan Agustus tahun 2014, aku masih seorang mahasiswa di sebuah universitas negeri dan sedang menjalankan program KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Atambua Selatan, NTT. Kami total 25 anak tinggal di satu rumah penginapan milik warga.

Setiap hari kami menjalankan program kerja di empat kelurahan, sehingga kami membagi tim menjadi 4 kelompok yang masing-masing bertanggung jawab untuk 1 kelurahan. Senin-Sabtu masing-masing kelompok akan menjalankan program kerja sedangkan hari Minggu kami habiskan waktu untuk libur dan bersantai. Selain itu kami juga membagi kelompok untuk piket menyiapkan makanan untuk satu tim.

Saat itu musim kemarau ditambah lagi iklim di NTT yang panas membuat perjalanan puasa kita menjadi lebih berat dari tahun sebelumnya. Menebus teriknya matahari di siang hari dengan berjalan kaki untuk mempersiapkan dan menjalankan program kerja sesuai rencana di setiap harinya. Terkadang harus mengitari perkampungan untuk mendata penduduk, melakukan sosialisasi pada masyarakat, mengajar murid di sekolah, dll.

Semua peluh terbayar saat Maghrib tiba, bergegas kami pulang, berkumpul dan berbuka puasa bersama. Ditemani canda tawa dan berbagi pengalaman di lapangan. Kami 25 anak dengan latar belakang serta karakter yang berbeda bisa bersatu dalam satu meja. Aku sangat menyukai kebersamaan ini serta solidaritas antara kami dimana teman non muslim sangat menghargai kami yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Kenangan yang Akan Terus Diingat

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/prostock_studio

Pernah suatu hari, giliranku piket menyiapkan makan saat itu. Jadi di hari saat kita piket, kita dibebaskan untuk ikut ke lapangan menjalankan program kerja. Karena aku tidak pandai masak sehingga tugasku hanya membantu pekerjaan ringan seperti memotong sayur dan mengupas bawang, dan aku ditugaskan untuk menanak nasi.

Tiba waktu berbuka puasa, semua anak sudah duduk di ruang tengah dan siap bersantap. Saat hendak mengambil nasi di rice cooker, alangkah terkejutnya aku karena nasi masih berbentuk beras. Ya Tuhan aku lupa menyalakan tombol ON nya. Dengan was-was aku berujar pada teman-teman yang sedang menunggu makanan dihidangkan, "Gais sorry banget ya, nasinya belum matang, aku lupa nyalain tombol ON di rice cooker tadi, maaf ya," hatiku menciut dan badanku lemas.

Namun mereka hanya terdiam, satu di antara mereka berbicara yang hanya mengataiku ceroboh dan menyuruh segera masak nasinya. Tidak ada kata-kata kasar atau ucapan kebencian yang terlontar, mereka kembali bercengkrama seperti tidak ada yang terjadi. Dan sabar menunggu nasi matang. Aku lega. Ada satu hal lagi yang membuatku takjub dengan tim ini adalah, setiap masakan dari tim piket meskipun rasanya tidak enak mereka akan selalu bilang jika masakannya enak.

Sekarang sudah 7 tahun berlalu, dan kami masih saling bertegur sapa di medsos, karena setelah lulus kuliah masing-masing bekerja di luar kota dan beberapa sudah menikah. Dari mereka aku menemukan satu makna penting puasa, yaitu menahan diri dari nafsu seperti makan dan emosi negatif.

#ElevateWomen