Pengalaman Menikah Jarak Jauh, tanpa Pesta dan Mempelai Pria

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Persiapan pernikahan seringkali dipenuhi drama. Ada bahagia, tapi tak jarang juga ada air mata. Perjalanan menuju hari H pun kerap diwarnai perasaan campur aduk. Setiap persiapan menuju pernikahan pun selalu punya warna-warninya sendiri, seperti kisah Sahabat Fimela dalam Lomba Share Your Stories Bridezilla: Perjalanan untuk Mendapat Status Sah ini.

***

Oleh: Irhayati Harun

Sedikit pun tak terbayangkan kalau aku harus menikah tanpa pesta dan gaun pengantin. Bayanganku dulu ketika menikah nanti akan memakai gaun yang indah berwarna emas dan bersanding dengan pria pujaanku di pelaminan. Apa daya, pernikahan tak biasa yang kujalani, membuatku tak dapat merasakan momen itu.

Pertemuan Tak Terduga

Waktu itu aku tengah balik dari Medan ke Yogya untuk sekolah. Tak kusangka, dalam perjalanan aku sebangku dengan lelaki cukup tampan, beralis tebal dengan bibir maskulin. Pembawaannya yang tenang dan cool, membuatku terpana. Apalagi saat ia rela meminjamkan jaketnya saat melihatku meringkuk kedinginan, sebab akibat terburu-buru jaketku tertinggal di rumah sebelum berangkat. Itulah awal perkenalan kami hingga berlanjut serius.

Mengalami Dilema

Setelah dekat beberapa bulan, lelaki dingin yang ternyata rendah hati dan perhatian itu pun menyatakan ingin serius menikahiku. Terang saja hatiku sangat senang, tak menyangka secepat itu ia melamarku. Namun, di sisi lain aku dilema sebab masih kuliah.

Sementara orangtua ingin sekali melihatku menjadi sarjana. Akhirnya dengan berat hati kuminta ia untuk sabar menunggu sampai aku lulus studiku. Meski agak kecewa karena Eqi (nama lelaki itu) tak mau pacaran lama-lama, ia pun mencoba mengerti. Namun tak lama kemudian Eqi membuat suatu keputusan yang cukup berat bagi hubungan kami.

Menjalani Long Distance Relationship

Ilustrasi./ Sumber: Pexels.com
Ilustrasi./ Sumber: Pexels.com

Eqi memutuskan untuk menerima ajakan temannya ke luar negeri mencari beasiswa sambil bekerja.

"Demi masa depan kita dan Adik juga bisa fokus menyelesaikan kuliah bila kita berjauhan. Nanti kalau sudah selesai bisa menyusul Abang." Eqi berusaha membesarkan hatiku yang tak siap ditinggal pergi. Aku pun mencoba menguatkan diri demi masa depan hubungan kami.

Pernikahan Jarak Jauh

Tapi rencana tinggal rencana karena belum selesai kuliah, aku dan Eqi tak sanggup berjauhan terus menanggung rindu. Kalau kata Dilan berat! Cukup aku saja hehehe.

Akhirnya saat chatting terlontarlah ide dari Eqi agar aku segera menyusulnya ke sana. Tapi aku dan kutahu keluarga besarku merasa tak elok rasanya bila kami bertemu tapi belum resmi menjadi suami istri. Eqi pun menyarankan agar kami menikah dulu.

"Tapi bagaimana caranya bila Abang tak bisa pulang untuk melangsungkan pernikahan?" Aku bertanya heran. Eqi lalu menjelaskan bahwa kami bisa menikah jarak jauh di mana Eqi memberi surat kuasa agar ijab qabulnya bisa diwakilkan pada adiknya.

Aku masih bimbang bagaimana cara menyampaikan pada keluargaku. Apakah mereka menerima pernikahan tak biasa seperti ini? Belum lagi menghubungi pihak KUA, apa bisa menjalankan pernikahan jarak jauh dan dengan cara diwakilkan? Dan sahkah secara agama? Tentu aku harus mencari jawabannya sebab aku belum pengalaman juga belum pernah ada teman atau keluarga yang menjalaninya.

Menikah tanpa Mempelai

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Benar saja begitu kusampaikan, keluarga besarku langsung heboh dan mencandaiku.

"Mengapa tidak menunggu Eqi pulang saja? Apa enaknya menikah sendiri."

Atau...

"Emangnya sah nikah seperti itu? Cari tahu dulu bagaimana prosedurnya," ucap kakak lelaki tertuaku.

Akhirnya aku pun pergi ke KUA untuk mencari tahu dan alhamdulillah ternyata bisa. Leganya hatiku tanpa mengulur waktu, aku pun mempersiapkan semua surat yang diperlukan termasuk surat kuasa dari Eqi dari luar negeri yang isinya pembacaan ijab qabul diwakilkan pada adik lelakinya. Bunyinya kurang lebih seperti ini.

"Saya terima nikahnya... mewakili Abang saya bernama Eqi..."

Baru kemudian, "Sah? Sah..." jawab yang hadir serempak. Saya yang merasakan menikah diwakilkan tanpa Eqi tentu merasa agak kurang yakin lalu berkata dalam hati,"Beneran udah sah sekarang jadi istrinya Eqi?"

Setelah itu tanpa menunggu lagi, aku segera masuk ke kamar karena rasa haru, sedih juga sedikit malu bercampur menjadi satu. Yang pasti aku tetap merasakan bahagianya menjadi pengantin walau tanpa pesta-pesta dan mempelai pria di sisiku.

Sehingga tak merasakan sibuk dan riwehnya melakukan persiapan pernikahan mulai dari memesan gaun pengantin, katering dan sebagainya. Tapi sibuk mengurus surat-surat resmi untuk menikah secara diwakilkan dan visa ama paspor yang deg-degan dan nervous-nya kurasa sama ketika hendak mengurus pernikahan. Nervous menghadapi penghulu dan keluarga besar juga pihak kedutaan ketika wawancara agar visa turisku diterima.

Dua bulan kemudian aku pun terbang ke luar negeri tempat Eqi yang sudah sah menjadi suamiku. Begitu sampai, Eqi langsung memeluk dan memegang tanganku terus sambil senyum-senyum dan berkata, "Lucu aja Adik sekarang udah menjadi istri Abang padahal belum merasakan mengucapkan ijab qabul."

Kami pun langsung bulan madu sebelum aku kembali lagi untuk menyelesaikan kuliahku. Yah begitulah kisah pernikahan kami yang tak biasa. Kini anakku sudah tiga dan bila mengingat momen itu aku dan suami hanya bisa tertawa.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel