Pengalaman saat Menjalani Operasi Mata Katarak

Syahdan Nurdin, nurterbit
·Bacaan 2 menit

VIVA - Apa itu katarak? Sungguh, tidak pernah saya tahu, atau tidak akan pernah tahu, seandainya saya tidak mengalami sendiri saat mata diganggu katarak. Ya penyakit katarak.

Selama ini, saya hanya pernah dengar di tongkrongan. Itu pun dalam bentuk guyonan. "Apa kamu gak baca ini? Apa gak pernah lihat ini? Dasar. Mata lo katarak !!."

Ya, sekarang, baru saya tahu betapa terasa terganggunya penglihatan kita jika terkena katarak. Mula-mula terasa hanya berupa bercak di mata, seperti telur cecak berlari-lari mengikuti barah pandangan. Terganggu sekali.

Lama-lama selaput penghalang pandangan tersebut, menutupi seluruh biji mata. Yang saya alami sendiri, bermula di mata kanan. Buram, seolah memandang asap atau kabut tebal. Selanjutnya tinggal mata kiri yang berfungsi.

Jika mata kiri juga saya tutup dengan telapak tangan, maka pandangan di depan, tidak melihat sama sekali. Ibarat berada di dalam satu ruangan sempit. Hanya bayangan sinar lampu. Tanpa pentilasi udara. Napas jadi terasa sesak.

Maka pagi-pagi saya sudah di Puskesmas, ditemani istri menunggu antrean untuk mendapatkan surat rujukan (pengantar) ke rumah sakit, persiapan operasi mata (katarak). Alhamdulillah, saya dirujuk ke RS Siloam Sentosa, Duren Jaya, Bekasi Timur yang dekat dengan tempat tinggal pasien.

Dokter sudah memvonis kalau saya terkena Katarak, dan tidak ada jalan lain kecuali tindakan operasi. Jika dibiarkan, cepat atau lambat akan buta permanen.

Masih kata dokter spesialis mata, penyebab utama Katarak pada mata karena faktor usia, kemudian disusul genetik (keturunan), pengaruh sinar matahari dan debu di ruang terbuka, sakit gula (diabet), radiasi hp dan komputer (cuma sekian persen).

Tidak terbayang kalau mata tidak berfungsi, bagaimana nanti saya beraktivitas sehari-hari? Menulis, mengetik, editing (artikel, video), menyetir atau mengendarai motor.

Tapi, Alhamdullah saat saya ketik artikel ini, saya sedang menjalani masa pemulihan pasca operasi mata katarak. Biaya operasi dicover BPJS Kesehatan.

Kalau pasien umum, bayar 8-13 juta sekali operasi. Bahkan 40 jutaan jika di rumah sakit spesialis mata di Jakarta. Saya dioperasi bersama 9 orang pasien katarak: 5 wanita 4 pria. Semuanya sudah lansia. Sayalah yang paling muda, cieh..

Proses operasi pun cuma sebentar, tidak lebih dari 30 menit. Yang lama itu karena antre menunggu giliran masuk ruang bedah. Tidak perlu nginap dan dirawat, bisa langsung pulang ke rumah.

Penglihatan dari mata kanan saya yang sudah dioperasi, sudah berfungsi kembali. Yang semula pandangan seperti melihat asap dan kabut, kini sudah terlihat bening (Nur Terbit)