Pengalaman Vaksinasi COVID-19 Ramah Sensori pada Penyandang Autisme

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Tak sedikit orang yang merasa gugup setiap kali harus disuntik. Seperti halnya yang terjadi pada Trey Gillece(20 tahun) yang menyandang autisme.

Saat ia menuju ruang penyuntikan vaksinasi COVID-19, Trey mendadak jadi tak tenang. Beruntung ayahnya, Jim dan saudaranya, Griffin (18 tahun), mampu mengalihkan perhatian Trey dengan cara ayahnya mengambil gambarnya bersama Griffin saat jarum suntik masuk, sehingga Trey berhasil melewatinya.

Trey termasuk diantara yang pertama mendapatkan pelayanan vaksinasi COVID-19 yang diselenggarakan oleh Eagles Autism Foundation dan Divine Providence Village, sebuah fasilitas perumahan di Delaware County untuk para penyandang disabilitas intelektual. Acara ini ditujukan untuk komunitas autisme, yang menghadapi beberapa tantangan khusus dalam mendapatkan vaksinasi.

Menurut direktur eksekutif Eagles Autism Foundation, Ryan Hammond, beberapa keluarga mungkin khawatir anak-anak mereka yang memiliki autisme akan kesulitan menunggu dalam antrean panjang di klinik atau mungkin tantrum saat mendapatkan vaksinasi. Karena ia diberitahu oleh salah satu keluarga bahwa putri mereka sangat jarang berada di luar selama pandemi, mereka tidak tahu akan seperti apa jika membawanya keluar di depan umum untuk vaksinasi.

“Populasi ini membutuhkan dukungan. Kita harus memenuhi kebutuhan mereka,” kata Hammond, dikutip dari Disabilityscoop. Klinik tersebut diberi kepercayaan untuk memberikan vaksin Moderna kepada lebih dari 1000 pendaftar dengan autisme (dengan syarat berusia 18 tahun keatas) dan anggota keluarga.

Pengalaman vaksinasi ramah sensorik

Oleh karena itu, yayasan tersebut mencoba menciptakan pengalaman yang ramah sensorik, dengan memberikan ruang tenang dengan mainan fidget, selimut, proyeksi cahaya di langit-langit ruangan, yang itu semua untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi mereka. Keluarga dapat menghabiskan waktu di sana jika anaknya mulai tantrum, dan dalam kondisi tertentu, perawat bisa masuk untuk memberikan vaksin secara pribadi.

Klinik juga menjanjikan keluarga yang khawatir anak mereka kesulitan masuk ke dalam klinik untuk menerima dosis vaksin di mobil mereka, kata Hammond.

Yayasan juga turut mencoba membantu pengasuh mempersiapkan dengan memberikan jadwal vaksinnya hari itu secara visual (setiap langkah ada penunjuk arah ke lobi, eskalator). Sehingga anak-anak mudah mengerti dan mengurangi kecemasan keluarga.

Adapun sebagian besar keluarga dari pendaftar vaksinasi merasa sangat terbantu dengan sistem klinik tersebut.

Misalnya putra-putra Marge Muccioli dari Holland, Michael dan Nick yang keduanya berusia 21 tahun dengan spektrum autisme, menerima dosisnya di salah satu ruang tenang di klinik tersebut. Lalu putranya Cynthia Charleston dari Northeast Philadelphia, Lafayette yang berusia 24 tahun, tidak tantrum maupun gugup dengan klinik dan saat disuntik vaksin karena ia sambil memegang mainan sensori favoritnya. Lalu bagi putranya Jim Gillece, Trey dan Griffin yang juga juga memiliki spektrum autisme yang disuntik vaksin oleh perawat dari tempat parkir klinik.

Kondisi yang sama akan terus berlanjut saat jadwal vaksinasi kedua.

Infografis 17 Kondisi Orang Tak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac

Infografis 17 Kondisi Orang Tak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 17 Kondisi Orang Tak Bisa Disuntik Vaksin Covid-19 Sinovac. (Liputan6.com/Abdillah)

Simak Video Berikut Ini: