Pengalamanku Menikah Muda, Bercerai, dan Memaknai Rumah Tangga

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Aya Choiriyah

Saat ini usiaku sudah 28 tahun. Telah memiliki 3 orang anak, laki-laki semua. Anak pertamaku kini berusia 8 tahun, yang kedua 3 tahun, dan yang bungsu berusia 1 tahun. Tetapi kini hanya anak kedua dan bungsu yang tinggal bersamaku, sedangkan anak pertamaku tinggal bersama ayahnya, mantan suamiku.

Ya, aku sudah pernah merasakan perceraian di usiaku yang masih dibilang cukup muda, 21 tahun. Aku menikah dengan suamiku di saat usiaku berkisar 19 tahunan. Suatu keputusan yang mungkin sekarang bisa dikatakan gegabah’ pada masa itu aku memilih untuk menikah muda. Kuliah pun dulu belum selesai, tapi aku bersikukuh untuk menikah dengan lelaki yang aku pacari sejak aku masih SMA.

Memutuskan menikah muda dulu bukan berarti langsung disetujui oleh kedua orang tua kami, banyak sekali pertentangan pada saat itu. Orang tuaku berkali-kali mengingatkan aku tentang banyaknya kewajiban dan tangung jawab ketika sudah berumah tangga. Tetapi ego darah muda membuatku mengabaikan wejangan dari kedua orang tuaku.

Karena aku anak perempuan satu-satunya, akhinya orang tuaku mengiyakan keinginanku untuk menikah muda. Saat itu juga sebenarnya aku pun sadar kalau ada rasa keberatan di dalam perasaan orang tuaku, tapi itu semua mereka coba tidak perlihatkan demi membuatku bahagia.

Pernikahanku awalnya memang sangat berjalan lancar. Aku bahagia. Seiring dengan waktu berjalan, dengan banyaknya kewajiban (menyelesaikan kuliah dengan segala tugas yang menumpuk), bekerja part time di salah satu perusahaan swasta, membuat aku dan mantan suamiku dulu memiliki sedikit waktu untuk berbicara.

Saat malam tiba, kami biasanya langsung tidur, tanpa banyak berkomunikasi. Mungkin kurangnya komunikasi itu yang membuat kami banyak bertengkar. Merasa saling terabaikan dan bahkan saling cemburu membuat rumah tangga kami seperti neraka saat itu.

Pelajaran Penting Soal Berumah Tangga

Ilustrasi/copyright shutterstock.com/Studio concept
Ilustrasi/copyright shutterstock.com/Studio concept

Usiaku yang hanya berbeda satu dengan mantan suamiku saat itu membuat ego kami sama-sama besar. Tidak mau saling mengalah, dan malu untuk saling meminta maaf. Aku pikir dengan aku hamil dan melahirkan, kondisi rumah tanggaku akan lebih baik, nyatanya sama saja. Puncaknya ketika anakku sakit, dan mantan suamiku cemburu tidak beralasan denganku. Aku merasa terpojokkan. Egoku yang masih sangat besar saat itu membuatku akhirnya memberanikan diri untuk berpisah.

Di saat itu pula aku sadar bahwa semua omongan kedua orang tuaku dulu tentang besarnya tangung jawab dan kewajiban selama menikah itu benar adanya. Aku sempat menyesal tidak mendengarkan kedua orangtuaku dulu. Hatiku hancur.

Siap tidak siap aku harus mengemban status sosial sebagai seorang janda. Dan yang lebih menyakitkan, aku tahu, bahwa kedua orang tuaku juga sama sakit perasaanya dengan keputusanku memilih untuk berpisah, tapi mereka tidak bisa berkata-kata.

7 tahun berselang, kini aku sudah berbaikan dengan mantan suamiku yang dulu. Dan aku bersyukur mantan suamiku juga sudah berubah menjadi lebih baik. Kami telah saling meminta maaf. Dan walaupun kini berpisah, kami bertekad membesarkan dan merawat anak kami bersama.

Kini aku dan mantan suamiku juga sudah memiliki keluarga masing-masing. Kami saling belajar dari masa lalu. Terutama aku, yang banyak mengambil hikmah dan memetik pelajaran, bahwa kunci utama berumah tangga adalah komunikasi yang baik.

#ElevateWomen