Pengamat: Disertasi Hasto tunjukkan politik luar negeri harus ada visi

Pengamat pertahanan dan militer Connie Rahakundini Bakrie berpendapat disertasi Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menunjukkan politik luar negeri dan pertahanan Indonesia harus memiliki visi dan misi.

"Disertasi Hasto berjudul Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara menunjukkan negeri ini seharusnya sadar tidak bisa menjalankan politik luar negeri dan pertahanan kelas medioker atau biasa saja, yang lahir tanpa visi dan misi," kata Connie dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, geopolitik Soekarno terarah bagi kepentingan NKRI kini dan erat dengan isu geopolitik regional dan internasional.

"Jelas terbaca pengaruhnya pada kepentingan nasional dan pertahanan," ujarnya.

Hal itu, kata dia, dibuktikan dengan pembebasan Irian Barat, peta jalan koridor pembangunan, pelembagaan pertahanan negara, hingga koridor kepentingan nasional dan pengaruhnya pada dunia meliputi proyeksi Pasifik sebagai pivot (poros) dunia.

Selain itu, Pancasila sebagai life line (garis kehidupan) dunia baru, Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok sebagai inspirasi kemerdekaan bangsa-bangsa Asia Afrika, serta tata dunia baru tanpa imperialisme dan kolonialisme.

Menurut Connie, bangsa Indonesia harus memahami dan mampu mendalami kembali pemikiran geopolitik Soekarno karena telah terbukti berpengaruh pada tingginya indeks pertahanan, kemandirian pertahanan negara, dan misi perdamaian dunia.

"Dari sisi relevansinya, pemikiran geopolitik Soekarno menjadi landasan kebijakan kita utamanya pasca-Biden dan Blinken statement beberapa waktu lalu," ujar Connie.

Bukan itu saja, disertasi ini juga mematahkan disertasi Dino Patti Djalal di Simon Fraser University yang menyebut Pancasila konsep yang abstrak.

"Ini mematahkan disertasinya Dino Patti Djalal bahwa Pancasila itu konsep yang abstrak," tutur Connie.

Menurut Connie, disertasi Hasto dengan jelas menggambarkan bahwa Pancasila itu bukan suatu konsep yang abstrak.

"Justru dari enggak abstrak itulah maka kita sangat konkret, kita bisa melahirkan geopolitik yang berbeda. Makanya, Soekarno beda banget (pemikirannya)," ucapnya.

Baca juga: Rektor UNP: Disertasi Hasto bisa jadi literasi lintas generasi

Baca juga: Guru Besar PTIK Tito Karnavian puji disertasi Hasto Kristiyanto

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel