Pengamat: Gaya Kepemimpinan Raja Charles III akan Jauh Berbeda dari Ratu Elizabeth II

Merdeka.com - Merdeka.com - Pangeran Charles, anak pertama Ratu Elizabeth II naik takhta menjadi Raja Charles III semenjak kematian ibunya pada Kamis (8/9) kemarin. Sebagai anak pertama, Raja Charles III telah dituntun sepanjang hidupnya untuk menduduki takhta kerajaan.

Di saat Raja Charles III masih menjadi pangeran, hidupnya diwarnai berbagai masalah, mulai dari pangeran yang meragukan kemampuan diri sendiri, hobi-hobinya yang sering diejek media Inggris, kandasnya rumah tangga hingga keinginan warga Inggris agar anak Charles, Pangeran William, menjadi raja menggantikan Ratu Elizabeth II.

Pangeran Charles pun harus memenangkan kembali hati masyarakat Inggris yang semakin menjauh dari dirinya. Setelah bertahan di tengah sorotan media dan desas-desus masyarakat, kini raja berumur 73 tahun yang hidupnya dipenuhi masalah itu, harus memimpin rakyatnya di dunia yang tengah menghadapi krisis.

Masyarakat Inggris juga dihadapkan dengan gaya kepemimpinan baru Charles.

Raja Charles III yang memimpin negara monarki-konstitusional itu kini dapat menjalankan rencana-rencana yang selama ini telah direncanakan.

"Gayanya akan sangat berbeda," kata Vernon Bogdanor, profesor pemerintahan King’s College London, dikutip dari The New York Times, Jumat (9/9).

"Dia akan menjadi raja yang aktif dan dia mungkin akan mendorong hak prerogatifnya sampai ke batasnya, namun dia tidak akan melewati batas itu," lanjutnya.

Ratu Elizabeth II sebelumnya telah menyiapkan jalan mulus bagi putranya untuk duduk di takhta kerajaan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pangeran Charles telah menjalankan tugas-tugas Ratu, dari perjalanan mengunjungi negara-negara persemakmuran, peletakan karangan bunga, pemberian gelar ksatria, hingga membuka Parlemen Inggris.
Bukan hanya itu, Charles juga mendirikan dan memimpin 400 badan amal, seperti Prince’s Trust yang membantu hampir 1 juga anak muda serta pelestarian lingkungan.

Charles juga menyuarakan toleransi beragama dan menentang gerakan Islamofobia di Inggris.

"Dia (Charles) bisa saja menghabiskan waktunya di klub malam atau tidak melakukan apa-apa, tetapi dia menemukan perannya," ujar Bogdanor.

Sebagai Raja, Charles harus bisa menjaga pendapat pribadinya. Raja Charles III tidak bisa berbicara banyak tentang politik mengingat bahwa dia adalah figur utama Kerajaan Inggris.

Kini Raja Charles harus memimpin kerajaannya dan meneruskan warisan ibunya.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]