Pengamat: Mitigasi risiko agar layanan digital tidak rugikan nasabah

Kelik Dewanto
·Bacaan 2 menit

Pengamat ekonomi dan perbankan Ryan Kiryanto mengatakan mitigasi risiko sangat penting dalam pelaksanaan layanan perbankan secara digital agar nasabah tidak mengalami kerugian.

"Perbankan ataupun lembaga jasa keuangan harus menjadi lembaga yang tangguh, tapi juga harus dekat ke nasabahnya, ini adalah kata kuncinya," kata Ryan dalam diskusi di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Sri Mulyani paparkan arah kebijakan transformasi digital 2020-2024

Ia mengatakan penggunaan layanan digital tidak terhindarkan saat era pandemi COVID-19 dan lembaga jasa keuangan harus terus meningkatkan kemampuan teknologi informasi agar tidak tertinggal.

Namun, Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini menekankan keamanan dana maupun data nasabah harus menjadi prioritas utama agar masyarakat tidak ragu untuk menaruh dana di perbankan.

Prioritas ini menjadi penting karena tren kejahatan siber terus meningkat dengan berbagai cara maupun modus untuk membobol rekening dan merugikan nasabah.

"Kendati ada pandemi COVID-19, perbankan harus tetap dekat dengan nasabah melalui kanal IT, sehingga nasabah selalu merasa dekat dengan bank ataupun lembaga keuangan," kata Ryan.

Menurut dia, OJK selama ini juga telah memiliki delapan prinsip perlindungan konsumen yang harus diperhatikan oleh perbankan maupun lembaga jasa keuangan.

Kedelapan prinsip tersebut adalah orientasi kepentingan konsumen, transparansi produk dan jasa keuangan, perlindungan aset dan perlindungan data pribadi konsumen dan standar etika profesional.

Selanjutnya, menghindari konflik kepentingan, penyediaan saluran pengaduan konsumen, penegakan peraturan, dan terakhir adalah edukasi dan keadilan sosial.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Komite Tetap Industri Hulu dan Petrokimia Kadin Indonesia Achmad Wijaya menambahkan saat ini seluruh industri sudah masuk ke tahap digitalisasi.

Ia mengatakan pelaku industri bahkan mendapatkan manfaat dari layanan digital perbankan karena memudahkan dalam pembelian bahan baku produksi hingga pembayaran gaji karyawan.

"Sejak COVID-19, semua orang harus meminimalkan kontak fisik dan menggunakan transaksi online. Dari orang kaya, pengusaha besar sampai sektor UMKM semua menggunakan internet," katanya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan perbankan harus benar-benar menjaga keamanan data konsumen, sehingga konsumen perorangan maupun korporasi merasa aman dan nyaman dalam bertransaksi.

Baca juga: Pakar: Kolaborasi bank dan fintech semakin terbuka lebar
Baca juga: Kemenko Perekonomian susun strategi nasional ekonomi digital