Pengamat nilai PDIP sebagai partai modern

Founder Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) Hendri Satrio menilai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai modern berdasarkan dua indikator, yakni terbuka dan menerima usulan calon presiden (capres).

"Yang pertama adalah terbuka, yakni dalam hal usulan-usulan itu menganut dari masukan massa akar rumput kemudian ke pusat," kata Hendri dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Kemudian indikator yang kedua, tutur Hendri melanjutkan, adalah menerima berbagai usulan atau kemungkinan-kemungkinan yang akan menjadi calon presiden.

Menurutnya, PDIP terus melakukan institusionalisasi partai politik, yakni mulai mendirikan 112 kantor partai hingga memiliki standar kualifikasi manajemen ISO 9001:2015.

"Kinerja ini mendapat apresiasi dengan meningkatnya elektoral mencapai 26 persen dan menang pemilu dua kali berturut-turut," ucapnya.

Baca juga: Pengamat: Sekolah Partai PDIP upaya positif bekali calon legislator

Baca juga: Golkar mengajak PDIP mendukung sistem proporsional terbuka

Ia menyatakan wajar jika ini membuat PDI Perjuangan menjadi partai yang kuat, terlebih ditandai struktur akar rumput sampai pusatnya yang kokoh.

"Kini PDI Perjuangan menjadi partai yang terkuat. Karena memang menurut hasil lembaga survei pun itu masih tertinggi sampai saat ini, jadi wajar bila dikatakan paling kuat, dan kuat struktur akar rumputnya," tutur Hendri.

Ia mengatakan, di usia PDIP yang masih memegang teguh ideologi Soekarno, ternyata masih bisa menjadi partai yang terus bergerak menjadi modern dan profesional.

Baca juga: Peneliti: PDIP paling berpengaruh dalam percaturan politik Indonesia

Baca juga: Pengamat: PDIP sebagai partai modern tak tinggalkan ideologi

Pada 10 Januari 2023, PDIP akan merayakan HUT Ke-50. Peringatan ini akan dilakukan sebagai bagian konsolidasi partai dalam rangka pemenangan pemilu, sehingga sifatnya lebih ke internal guna memperkuat jati diri PDIP sebagai partai ideologi Pancasila dengan ciri kerakyatan, kebangsaan, dan keadilan sosial.

Adapun tema yang diusung adalah, "Genggam Tangan Persatuan dengan Jiwa Gotong Royong dan Semangat Api Perjuangan Nan Tak Kunjung Padam"; dengan subtema, "Persatuan Indonesia untuk Indonesia Raya".