Pengamat: Qanun Aceh Sebaiknya Diselesaikan Di MK

Jakarta (ANTARA) - Sosiolog Universitas Gadjah Mada Arie Sudjito mengatakan, penyelesaian polemik Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang sebaiknya diselesaikan secara hukum dengan menilik kembali posisi Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

"Kalau sengketa (Qanun) tersebut berada pada level undang-undang, Pemerintah Aceh bisa mengajukan `judicial review` atau uji materi ke Mahkamah Konstitusi," katanya di Jakarta, Senin.

Penggunaan lambang dan simbol dalam bendera daerah merupakan interpretasi dari UU tersebut, sehingga perdebatan tersebut seharusnya bisa selesai di struktur hukum.

Dia menilai, permasalahan penggunaan lambang bulan sabit dan bintang pada bendera Aceh tersebut muncul karena perbedaan persepsi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh yang masih terkait dengan sejarah perdamaian pada 2005.

"Ada perbedaan persepsi karena ada konstruksi berpikir pada masa lalu, ketika terjadi diplomasi ekstra parlemen masuk ke parlemen. Maka sebaiknya diselesaikan secara hukum melalui judicial review," tambahnya.

Dinamika persoalan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh, menurut dia, merupakan masa transisi pembentukan model pemerintahan otonomi di Serabi Mekah itu.

"Ini tantangan bagi Kemendagri dan kaum elit Aceh untuk menata pemerintahan daerah itu," tambahnya.

Oleh karena itu, upaya kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan tidak memerlukan peran pihak ketiga, seperti pada saat perdamaian antara Pemerintah dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melalui Perjanjian Helsinki.

"Masalah ini tidak perlu dibawa ke internasional dan tidak perlu negosiasi. Yang dibutuhkan hanya tahapan pendekatan dan diplomasi," katanya.

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah, yang juga mantan petinggi GAM, menegaskan tetap akan memperjuangkan penggunaan lambang bulan sabit dan bintang pada bendera daerah Aceh.

Perdebatan terkait bendera Aceh tersebut muncul setelah DPRA mengesahkan penggunaan lambang bulan sabit dan bintang sebagai bendera daerah pada 25 Maret yang tertuang dalam Qanun (Perda) Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh.

Lambang tersebut ditengarai menyerupai bendera GAM sehingga dikhawatirkan melibatkan unsur-unsur separatisme atau memisahkan diri dari NKRI.

Pemerintah, melalui Mendagri Gamawan Fauzi, beberapa waktu lalu telah melakukan pertemuan dengan Ketua DPRA, Gubernur dan Wali Nanggroe di Aceh.

Namun pertemuan tertutup tersebut belum memperoleh kesepakatan, sehingga Pemerintah memberikan waktu 15 hari terhitung sejak 1 April bagi Pemerintah Aceh untuk mempertimbangkan kembali penggunaan lambang tersebut. (fr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.