Pengamat Sarankan Evaluasi Proyek Satelit Satria

Liputan6.com, Jakarta - Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) dinilai perlu mengevaluasi rencana pembangunan Satelit Indonesia Raya (Satria). Satria direncanakan mengorbit pada 2022, dengan skema pembayaran ketersediaan layanan (Avaibality Payment/AP) selama 15 tahun.

Pengamat Telekomunikasi, Nonot Harsono, mengatakan BAKTI dan Kemkominfo sebaiknya saat ini meningkatkan utilisasi Palapa Ring, ketimbang mengorbitkan satelit telekomunikasi Satria. Selain urgensi yang sejauh ini belum diungkapkan secara detail oleh pemerintah, BAKTI pun mulai tahun ini mengalami defisit dana.

"Proyek Satria sangat perlu dievaluasi, ditahan dulu. Jangan menuruti gengsi, lihat dari sisi utilisasi dan rencana pemakaiannya. Harus ada dokumen dan design planning, harus ada nama desa, kecamatannya (yang membutuhkan). Harus ada dokumen publik, dan dikasih lihat kalau orang tidak ingin ditanya, ya, ditunjukkan, transparan, tunjukkan urgensinya," ujar Nonot dalam diskusi Tol Langit: Peluang dan Tantangan untuk Mewujudkan Indonesia Merdeka Sinyal di kawasan Jakarta, Kamis (12/3/2020).

Satria menggunakan teknologi high throughput satellite (HTS) dengan kapasitas frekuensi 150Gbps dan memiliki frekuensi Ku-Band.

Satelit ini akan mencakup sekitar 150 ribu titik tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Nantinya, satelit ini dapat digunakan untuk mendukung beragam kebutuhan layanan telekomunikasi, seperti pendidikan, kesehatan, hingga pemerintah.

 

Palapa Ring

Persiapan Satria merupakan salah satu program BAKTI selain Palapa Ring, dan pembangunan BTS. Program-program BAKTI didukung dari iuran dana 1,25 persen dari gross revenue masing-masing penyelenggara telekomunikasi atau operator.

Pembangunan Palapa Ring sendiri telah selesai sebelum akhir tahun lalu, tapi sejauh ini utilisasinya dinilai masih rendah. Oleh sebab itu, pemerintah dinilai harus lebih meningkatkan pemanfaatannya terlebih dahulu sebelum beralih ke Satria.

Palapa Ring merupakan pembangunan jaringan serat optik nasional, yang menjangkau 440 kota/kabupaten di seluruh Indonesia. Proyek itu terdiri atas tujuh lingkar kecil serat optik untuk wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Papua, Sulawesi, dan Maluku, serta satu backhaul untuk menghubungkan semuanya.

"Palapa Ring sudah jalan, ya disukseskan dulu. Jangan menambah masalah dengan satelit, lihat urgensi kebutuhannya mana," kata Nonot.

(Din/Why)