Pengamat sebut energi batu bara masih jadi pilihan rasional

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 1 menit

Ketua Umum Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia-Ikatan Ahli Geologi Indonesia (MGEI-IAGI) Budi Santoso menilai penggunaan energi dari batu bara masih menjadi pilihan rasional untuk pengadaan listrik di Indonesia.

Budi dalam pernyataan di Jakarta, Rabu, mengatakan energi fosil ini masih diandalkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik karena lebih efisien, stabil dari sisi pasokan, dan harga yang lebih murah.

"Sangat rasional kalau kita mengendalikan energi batu bara," katanya.

Baca juga: Konversi pembangkit batu bara, PLN butuh 8 juta ton sampah/tahun

Ia menambahkan kemajuan teknologi juga menjadikan batu bara tidak lagi merupakan energi kotor karena saat ini ada cara pengolahan yang membuat abu keluaran rendah dengan sulfur yang terkendali.

Menurut dia, hasil penelitian menyimpulkan bahwa teknologi pembangkit listrik batu bara telah sanggup menangkap debu dengan ukuran di bawah lima mikron serta teknologi desulfurisasi dapat mengatasi buangan gas asam.

"Teknologi modern pembangkit sudah sangat maju. Emisinya secara ketat dikontrol jauh bahkan jauh lebih kecil dari 5 mikron. Padahal, debu-debu di jalan itu antara 5-15 mikron," katanya.

Baca juga: Presiden Jokowi sampaikan prioritas industri turunan batu bara

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia Wiluyo Kusdwiharto mengatakan produksi listrik yang murah akan mendorong penyediaan listrik ke masyarakat, industri, dan bisnis yang kompetitif, serta akan menjadi daya tarik bagi industri.

Ia menambahkan untuk pemenuhan listrik tersebut, negara harus memenuhi prinsip kecukupan, keandalan, keberlanjutan, keterjangkauan, dan keadilan, apalagi tarif listrik menjadi salah satu penentu kemudahan berbisnis.

Wiluyo mengakui batu bara masih merupakan bahan bakar utama pembangkit listrik di Indonesia yaitu mencapai 60 persen. Namun, pembangkit tersebut sudah makin ramah lingkungan karena menggunakan teknologi pengolahan yang modern.