Pengamat Sebut Masalah Garuda Indonesia Seperti Gunung Es, Apa Maksudnya?

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati mengatakan, permasalahan Garuda Indonesia sudah seperti gunung es. Sebab, masalah maskapai pelat merah tersebut bertubi-tubi dan terus menumpuk.

"Jadi ini sebenarnya persoalan gunung es. Kalau dilihat persoalannya banyak, persoalan manajerial, strukture cost, pengelolaan keuangan, dan efisiensi," ujar Enny dalam diskusi online, Jakarta, Selasa (8/6).

Enny menjelaskan salah satu persoalan Garuda Indonesia yang paling fatal adalah pengelolaan utang. Di mana utang, mayoritas berasal dari negara asing atau dalam valuta asing.

"Kesalahan aksi korposari, ugal-ugalan juga tidak memperhitungkan finansial dari sisi utang. Utang mungkin bunga nya rendah, tapi tak berpikir utangnya itu di dalam valuta asing sehingga resiko valuta asingnya tidak diperhitungkan," katanya.

Utang ini semakin membengkan, sebab pada 2017 hingga 2018 sempat terjadi goncangan yang hebat pada nilai tukar. Rupiah saat itu, terus melemah terhadap Dollar Amerika Serikat (USD). Tercatat secara rata-rata mencapai Rp15.000 per USD.

"Pada 2017 hingga 2018 itu tekanan terhadap nilai tukar itu luar biasa hampir menyentuh dalam beberapa bulan hampir bertengger di level Rp15.000-an. Sementara secara cost structure 75 persen harus dibayar dengan USD. Artinya, musabab awal Garuda memang aksi korporasi yang tidak prudent," jelasnya.

Enny menambahkan, persoalan Garuda Indonesia sebenarnya bukan sekali ini saja timbuk ke permukaan. Sebelumnya, badan usaha milik negara itu pernah kedapatan melakukan manipulasi data keuangan yang membuat geger publik.

"Perdebatan Garuda ini sudah terjadi sebenarnya sebelum Covid. Maskapai ini pernah laporan keuangannya digincuin harusnya, belum masuk, dimasukin. Ini warning sebenarnya saat itu," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Terlilit Utang Rp 70 Triliun, Garuda Indonesia Masih Bisa Selamat?

Pesawat Terbang Garuda Indonesia (Liputan6.com/Fahrizal Lubis)
Pesawat Terbang Garuda Indonesia (Liputan6.com/Fahrizal Lubis)

Maskapai nasional Garuda Indonesia tengah berada dalam kondisi kritis. Perseroan diketahui memiliki utang mencapai Rp 70 triliun atau sekitar USD 4,5 miliar dollar AS.

Restrukturisasi menjadi pilihan untuk menyelamatkan BUMN ini. Dalam kondisi sulit, seluruh karyawan Garuda Indonesia dinilai harus memiliki pola pikir mandiri yang kompetitif.

Menurut pengamat penerbangan California State University Fresno Hendra Soemanto, pola pikir atau mindset dari para people management internal Garuda Indonesia harus ikut bertransformasi, bukan hanya perusahaan secara keseluruhan.

"Selama ini, telah terpola dalam mindset mayoritas karyawan BUMN bahkan level top management bahwa pemerintah, sebagai pemegang saham terbesar perusahaan akan menyelamatkan perusahaan dengan kebijakan dan hal ini sedikit banyak memengaruhi budaya dan iklim kerja. Pola pikir tersebut menghasilkan SDM yang manja dan cenderung berada di comfort zone dalam waktu lama," ujar Hendra dalam keterangannya kepada Liputan6.com, Senin (7/6/2021).

Lanjut Hendra, sudah saatnya Garuda Indonesia memikirkan sistem atau model manajemen yang strategis dan lebih ideal dengan pemimpin yang mampu memotivasi semua karyawan untuk berkompetisi dan berpikir inovatif.

Harapan ke depannya, Garuda Indonesia dapat memperbaiki kinerja dan semua proses kegiatan perusahaan, yang di dalamnya terdapat insan dengan integritas tinggi, produktif dan komersial untuk menghasilkan kinerja yang sempurna, yang sejalan dengan perkembangan teknologi dan industri.

Hendra juga berpendapat, insan Garuda Indonesia harus membangun sense of crisis, karena siapapun pemimpin kedepannya nanti, sehebat apapun langkah-langkah strategis untuk pemulihan disusun, tidak akan sukses dengan tidak adanya dukungan dari internal.

"Seluruh karyawan Garuda Indonesia harus mendukung semua program recovery dengan membangun semangat sebagai tim yang solid dan mengedepankan kepentingan perusahaan," kata Hendra.

Pangkas Komisaris

Pesawat Boeing B737-800NG dengan nomor registrasi PK-GFK yang akan digunakan pada rute domestik.
Pesawat Boeing B737-800NG dengan nomor registrasi PK-GFK yang akan digunakan pada rute domestik.

Sementara, Langkah yang akan dilakukan pemerintah untuk memangkas jumlah komisaris dinilai sangat tepat. Langkah ini, menurutnya, seharusnya tidak berhenti pada level komisaris saja.

Restrukturisasi organisasi harus diimplementasikan top down, beberapa direktorat dalam organisasi Garuda Indonesia dapat di-merger, begitupun halnya dengan karyawan pada middle level. Hal ini jika dilakukan akan berdampak kepada penghematan biaya tunjangan bagi posisi atau jabatan yang tidak optimal.

"Penawaran pensiun dini harus dijadikan langkah terakhir dalam usaha restrukturisasi SDM karena jika hal ini dilakukan tentunya akan menambah beban pengeluaran bagi Garuda Indonesia dengan jumlah nominal pesangon yang harus dibayarkan dan ada kemungkinan salah sasaran," katanya.

Harapannya, lanjutnya, karyawan yang mengajukan adalah yang mendekati usia pensiun, karena jika yang mengajukan adalah karyawan dengan usia produktif dengan pertimbangan dan rencana yang kurang matang, tentu akan ada peningkatan pengangguran.

Adapun, wacana penerbangan domestik tanpa rute internasional dinilai dapat dilakukan selama masa pandemi.

"Tetapi untuk selanjutnya, secara berkesinambungan, selain Garuda Indonesia harus melakukan proses transformasi menjadi perusahaan yang lebih akuntabel, professional, dan transparan, juga menjalankan bisnis penerbangan sesuai dengan visi dan misi perusahaan untuk memperkenalkan dan mengantarkan Indonesian Culture ke seluruh dunia," katanya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel