Pengamat sebut pemerintah perlu jaga daya beli masyarakat

Pakar Kebijakan Publik dan Kepala Studi Ekonomi Politik LKEB UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan pemerintah perlu menjaga daya beli masyarakat yang masih berada di bawah posisi sebelum COVID-19 pada kuartal I 2022.

"Jika dilihat dari sisi pengeluaran maka terlihat konsumsi rumah tangga masih di bawah ambang normal sebelum COVID-19. Kuartal 1 2022 konsumsi rumah tangga tumbuh 4,34 persen year on year atau di bawah konsumsi rumah tangga yang normalnya adalah 5,0 persen," kata Achmad yang juga Co-Founder Narasi Institute dalam keterangan resmi, Selasa.

Konsumsi rumah tangga tercatat meningkat untuk sektor tersier seperti hotel, angkutan, dan restoran yang biasanya dikonsumsi masyarakat kelompok menengah ke atas.

Baca juga: BKF: Pemulihan ekonomi berpotensi terus menguat ke depan

Sementara itu, menurutnya, masyarakat kelompok menengah ke bawah saat ini masih berjuang menghadapi kenaikan harga bahan pokok.

"Situasi ekonomi kuartal I 2022 diwarnai dengan kenaikan harga pangan, harga minyak goreng, tingginya harga komoditas ekspor seperti sawit dan batubara, serta kenaikan belanja pemerintah terutama di sektor konstruksi," katanya.

Kenaikan harga bahan pokok perlu terus dijaga karena inflasi pada April 2022 tercatat 3,47 persen year on year yang dapat meningkatkan risiko kontraksi ekonomi jika terus berlanjut.

Baca juga: CORE: Perekonomian kuartal I 2022 kena dampak dari konflik Ukraina

Ia juga memperkirakan perekonomian Indonesia tumbuh di bawah target pemerintah sebesar 5,03 persen year on year di tahun 2022.

"Karena inflasi dan risiko kenaikan suku bunga kredit akibat perang Rusia-Ukraina dan kenaikan FED rate menyebabkan ekonomi Indonesia akan tumbuh mencapai maksimal 4,5 persen sampai 5,0 persen year on year," katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel