Pengamat Sebut Teror Gereja Katedral Makassar sebagai Aksi Balas Dendam

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Depok - Pengamat terorisme Al Chaidar menyebut aksi teror yang terjadi di Gereja Katesral Makassar kemarin adalah sebagai bentuk aksi balas dendam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Al Chaidar mengatakan, ledakan yang terjadi di gereja Katedral Makassar merupakan bom bunuh diri pasangan suami istri kelompok JAD. Kelompok tersebut berafiliasi terhadap kelompok ISIS.

Dia menjelaskan, penyerangan kelompok JAD ke gereja Katedral berkaitan dengan penangkapan kelompok JAD pada awal Februari. Sebanyak 22 orang di tangkap dan dua orang ditembak, membuat kelompok tersebut bergerak melakukan serangan balasan.

"Mereka pada akhirnya ingin balas dendam tapi mereka melakukan balas dendam itu mempercepat rencana operasi amaliah pada hari Paskah, sehingga percepat pada Minggu, 28 kemarin," ucap Al Chaidar, Senin (29/3/2021).

Al Chaedar menilai kelompok terorisme akan melakukan serangan kembali pasca peledakan bom di gereja Katedral di Makassar, Minggu (28/3/2021).

Menurutnya, kelompok JAD banyak merekrut anggota dengan memanfaatkan sosial media (Sosmed) dalam pergerakannya. Selain menggunakan Sosmed, kelompok tersebut kerap melakukan pengajian keluarga namun secara tertutup.

“Terkait serangan di Makassar, Kota tersebut merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia selain Medan, Surabaya, dan Jakarta,” ujar Al Chaedar.

Waspadai Serangan Lanjutan

Selain tiga kota yang disebutkannya, Al Chaedar menilai masih ada sejumlah kota lainnya menjadi sasaran serangan lainnya, seperti Palembang, Jogjakarta, dan Semarang. Menurutnya, selain menyasar serangan ke wilayah lain, akan ada serangan berulang kembali.

“Ya ada kemungkinan serangannya berulang seperti gereja Katedral Jolo, Filipina sebanyak dua kali, Surabaya sudah di serang sekali, Makassar sekali, dan ini harus diwaspadai selain di kota lain, harus mewaspadai di kota yang sama itu, Surabaya dan Makassar ada kemungkinan terulang lagi,” terang Al Chaedar.

Al Chaedar mengungkapkan, kelompok teroris yang menerapkan pola sel tidur sudah berada 19 provinsi. Dirinya memperkirakan rencana serangan tersebut sudah aktif kembali untuk melakukan serangan. Menurutnya, situasi pandemi COVID-19 dianggap peluang bagi terorisme melakukan pergerakan.

“Sel tidur ini memanfaatkan kembali situasi Pandemi COVID-19,” tegas Al Chaedar.

Bom bunuh diri keluarga yang terjadi di gereja Katedral Makassar, lanjutnya, tidak berkaitan dengan penangkapan pimpinan JAD yakni Aman Abdurrahman. Bahkan, Aman Abdurrahman telah memfatwakan melarang melakukan bom bunuh diri keluarga. Bagi Abdurahman bom bunuh diri keluarga melibatkan istri dan anak tidak boleh dilakukan.

“Sementara orang JAD yang ada sekarang lebih memilih fatwa dari Khalid Gozali untuk melakukan bunuh diri keluarga menggunakan isteri dan anak,” ucap Al Chaedar.

Al Chaedar mengungkapkan, kelompok terorisme yang mengajak keluarga melakukan bom bunuh diri dikarenakan telah membuat interpretasi yang aneh terhadap ajaran agama, bahwa dianjurkan masuk surga secara bersama dalam satu keluarga. Padahal, pemahaman tersebut tidak dianjurkan.

“Anjurannya yakni menyuruh menjaga diri dan keluarga dari api neraka,” kata Al Chaedar.

Al Chaedar meminta aparat keamanan untuk menambah personil untuk pengamanan gereja, terutama gereja Katedral. Kinerja polisi dinilai sudah sangat baik karena menangkap sebelum terjadi ledakan. Namun masih ada tujuh orang yang belum tertangkap di Makassar.

“Salah satunya satu pasangan yang melakukan bom bunuh diri di Katerdal. Jadi ada beberapa orang lagi yang perlu di kejar untuk pencegahan agar tidak terjadi lagi peristiwa serupa,” pungkas Al Chaedar.

Saksikan Video Terkait Berikut Ini: