Pengamat: Seharusnya Premium Sudah Lenyap dari Pasaran

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Pengamat Energi Mamit Setiawan menilai rencana penghapusan Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium dan Pertalite yang akan dilakukan Pemerintah merupakan langkah yang tepat.

“Saya kira ini merupakan langkah yang sudah tepat. Kita tahu bahwa saat ini kita dalam komitmen,” kata Mamit saat dihubungi Liputan6.com, Senin (27/12/2021).

Hal itu selaras dengan komitmen Pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang tertuang dalam perjanjian Paris yang sudah disepakati bersama, dimana Indonesia mempunyai target mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030 .

Mamit menegaskan, sebagai salah satu bentuk implementasinya adalah diterbitkan Permen Kementerian Lingkungan Hidup No. 20 tahun 2017 yang mensyaratkan standar minimal RON 91 untuk produk gasoline dan CN 51 untuk produk gas oil sesuai dengan standar EURO 4.

“Dengan demikian, memang seharusnya Premium ini dihapuskan dalam peredarannya. Harapannya, ketika beralih ke BBM dengan RON tinggi maka akan sangat membantu dalam mengurangi polusi di Indonesia,” ucapnya.

Saat ini, jumlah negara yang menggunakan Premium juga sangat sedikit. Berdasarkan data Pertamina, saat ini hanya ada 7 negara yang menggunakan Premium yaitu, Bangladesh, Kolombia, Mesir, Mongolia, Ukraina, Uzbekistan dan Indonesia.

“Jadi populasinya secara global juga sangat sedikit. Negara-negara maju sudah menggunakan BBM dengan minimal standar EURO 4,” kata Mamit.

Selain itu, saat ini konsumsi Premium hanya 7,8 persen jika dibandingkan dengan konsumsi total BBM dan 11,70 persen apabila dibandingkan dengan konsumsi gasoline seperti Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Program Langit Biru

Petugas SPBU mengisi bahan bakar jenis pertalite kepada pengguna sepeda motor di Pamulang, Tangerang Seatan, Banten, Senin (21/9/2020). Pertamina memberi diskon harga BBM jenis pertalite di Tangerang Selatan dan Bali, dari Rp 7.650 menjadi Rp 6.450 per liter. (merdeka.com/Dwi Narwoko)
Petugas SPBU mengisi bahan bakar jenis pertalite kepada pengguna sepeda motor di Pamulang, Tangerang Seatan, Banten, Senin (21/9/2020). Pertamina memberi diskon harga BBM jenis pertalite di Tangerang Selatan dan Bali, dari Rp 7.650 menjadi Rp 6.450 per liter. (merdeka.com/Dwi Narwoko)

Menurutnya, Pertamina dengan program langit biru yang di jalankan sudah mulai memberikan pengaruh kepada masyarakat mengenai manfaat dari penggunaan BBM dengan RON tinggi.

Berbagai macam kehandalan yang didapatkan dengan menggunakan BBM RON tinggi, seperti emisi buang yang lebih rendah karena pembakaran mesin menjadi sempurna, perawatan mesin menjadi lebih murah dan hemat karena tidak perlu sering ke bengkel, jarak tempuh menjadi lebih jauh.

“Sehingga sebenarnya lebih irit jika dibandingkan dengan premium,” imbuhnya.

Adapun program Pertashop yang sedang berjalan saat ini yakni One Village One Outlet (OVOO) dimana BBM yang dijual adalah RON 92 sebagai Langkah sosialisasi yang juga sangat tepat, karena menyasar masyarakat pedesaan.

“Masyarakat saat ini juga sudah banyak yang beralih ke Pertalite yang RON sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan Premium tapi dari sisi harga juga masih cukup terjangkau,” tegasnya.

Namun, untuk benar-benar beralih ke BBM ron yang tinggi dengan menghapus Pertalite memang masih membutuhkan waktu.

“Kita mesti melihat juga kondisi perekonomian masyarakat,” pungkas Mamit.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel