Pengamat Soal 90 Persen Produk Impor di E-commerce: Pemerintah Seakan Takut Digugat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Produk impor disebut-sebut masih membanjiri penjualan di e-commerce. Bahkan 90 persen lebih produk yang dijual di e-commerce berasal dari produk impor.

Tentu hal ini sangat kontras dengan upaya pemerintah dalam mendorong gerakan Bangga Buatan Indonesia.

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira menilai, membanjirnya produk impor akibat tidak ada kebijakan kongkrit dalam menurunkan ketergantungan impor khususnya dari platform e-commerce.

Pemerintah disebut seakan khawatir digugat oleh negara lain seperti China jika terlalu keras menghambat produk impor di marketplace.

"Padahal banyak cara misalnya dengan menaikan hambatan non tarif dengan sertifikasi dan pengawasan ketat barang impor China masuk ke jalur merah bea cukai," kata Bima saat dihubungi merdeka.com, Minggu (6/6/2021).

Pemerintah dikatakan Bima seakan takut di hadapan raksasa e-commerce asing, sehingga terlambat lakukan pengawasan dan pengaturan terhadap banjir barang impor.

Persoalan lain yang menyebabkan UMKM Indonesia belum banyak masuk di e-commerce dan kalah saing dengan produk impor karena bantuan dan pengembangan kualitas produk didalam negeri masih belum optimal.

Misalnya saja soal program peningkatan skala produksi dan kualitas UMKM cenderung terfragmentasi, tersebar dibanyak kementerian atau lembaga tidak fokus.

"Seperti ada bantuan tunai untuk UMKM selama pandemi, tapi setelah ditransfer uangnya tidak ada pendampingan," jelasnya.

Sementara itu, terkait dengan gerakan bangga buatan Indonesia itu bukan hal baru. Sebab gerakan itu sudah dari dulu sejak zaman Soeharto yang pada saat itu namanya Aku Cinta Produk Indonesia, bahkan jadi stiker di transportasi publik.

Masuki Sistem Ekonomi Digital

Ilustrasi e-Commerce (iStockPhoto)
Ilustrasi e-Commerce (iStockPhoto)

Sebelumnya, Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaatmadja mengatakan, 90 persen lebih produk yang dijual di e-commerce yang terdapat di Indonesia bukan produksi dalam negeri, melainkan produk impor.

Menurut dia, UMKM di luar negeri, seperti China, lebih siap dalam memasuki ekosistem ekonomi digital yang sudah merambah pasar global.

Sementara UMKM di Indonesia, kata Jahja, masih perlu banyak edukasi dan peningkatan kapasitas dalam produksi, SDM, maupun kualitas produk.

"E-commerce di Indonesia ini sudah banyak, ada Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan lain-lain. Kalau kita lihat 90 persen lebih produk dari mana? Bukan UMKM kita, ini yang menyedihkan. Itu import goods," kata Jahja Setiaatmadja seperti dikutip dari Antara dalam webinar digitalisasi UMKM dan sistem pembayaran 2025 yang dipantau di Jakarta, Rabu (2/6).

BCA mengadakan UMKM Fest pada Maret 2021 yang diikuti oleh 1.800 UMKM terpilih yang memiliki kesiapan produk yang berkualitas. Mereka dibantu untuk masuk ke dalam ekosistem digital berupa e-commerce berbasis website yang dibuat BCA.

Jahja menyebut sebagian besar dari pelaku UMKM yang mengikuti UMKM Fest tersebut masih perlu banyak bantuan dalam mempersiapkan produk mereka untuk masuk ke ekosistem digital.

"Yang melatarbelakangi adalah kurangnya digital knowledge dan skill. Memang generasi milenial ada yang berjualan melalui Instagram, Facebook. Ini lumayan, tapi persentase mereka dibandingkan UMKM konvensional masih sedikit," katanya.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Saksikan Video Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel