Pengamat: Stimulus ekonomi harus merata terhadap semua industri

Risbiani Fardaniah

Pengamat Ekonomi dari Indonesian Development of Economi and Finance (INDEF) Dradjat Wibowo mengatakan stimulus ekonomi terhadap dampak COVID-19 harus merata kepada semua sektor industri.

Ia menegaskan pemerintah harus serius dan bersungguh-sungguh menanggulangi Penyebaran COVID-19.

"Pengaruh wabah COVID-19 teramat besar bagi perekonomian nasional. Semakin lama dan luas wabah COVID-19 menular, semakin berdampak negatif bagi perekonomian nasional, semakin banyak orang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian," katanya dalam informasi tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.

Karena itu, lanjut Dradjat Wibowo, pemerintah harus membuat stimulus perekonomian yang tepat. Sektor industri mana yang masih bagus dan beroperasi serta memberikan penghasilan keuangan dan menyerap tenaga kerja, harus terus dioptimalkan dan dilindungi.

Salah satu industri yang menyerap tenaga kerja yang banyak dan menggerakkan ekonomi sektor riil dari perkotaan hingga pedesaan adalah industri hasil tembakau. Di samping itu, sektor industri ini juga memberikan pemasukan keuangan bagi negara lewat cukai dan pajak pajak lainnya.

Baca juga: BI: Stimulus fiskal pemerintah topang pertumbuhan ekonomi RI

Karena itu, dalam rangka penyelamatan ekonomi, jika pemerintah memberikan bantuan dan perlindungan kepada sektor industri lainnya, maka untuk azas keadilan, industri berbasis tembakau pun perlu mendapat perlindungan dan perhatian pemerintah pula.

Menurut Drajat Wibowo, INDEF beberapa waktu lalu telah membuat proyeksi turunnya pertumbuhan perekonomian hingga 2 persen untuk skenario wabah yang minimal.

"Kalau skenario wabahnya lebih besar lagi seperti di Italia bisa berakibat pertumbuhan ekonomi kita mencapai angka minus. Ini sudah terbukti dengan China yang mengalami pertumbuhan minus," katanya.

Ketua Dewan Pakar Pengurus Pusat Partai Amanat Nasional (PAN) juga menyampaikan jika minus pertumbuhan ekonominya hanya sesaat dan tidak terlalu banyak efeknya. "Hanya psikologis saja. Tapi kalau minus pertumbuhan ekonominya dalam jangka panjang, 1-2 bulan akan membahayakan perekonomian nasional kita," katanya.

Baca juga: Pemerintah berencana berikan stimulus ekonomi bagi sektor informal