Pengamat: Tingkatkan nilai tambah pendorong minat warga santap ikan

Subagyo
·Bacaan 2 menit

Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan Abdul Halim mengingatkan agar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dapat meningkatkan nilai tambah yang tepat dari berbagai produk perikanan agar membuat warga semakin banyak yang mau menyantap ikan.

"Sebetulnya problemnya adalah mengkomunikasikan nilai produk yang dijual, tidak serta-merta menurunkan harga produknya. Sepanjang ada nilai tambah produk, niscaya konsumen bakal tetap membeli, berapapun harganya," kata Abdul Halim kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Dia mengakui bahwa saat ini memang ikan sedang mengalami tingkat harga yang tinggi di tengah musim pandemi, namun, ikan merupakan produk pangan yang penting dan memiliki banyak manfaat bagi manusia sehingga patut untuk dikedepankan nilai tambahnya.

Merebaknya wabah corona atau COVID-19, tambahnya, dapat menjadi salah satu sebab mengapa tingkat konsumsi ikan masih rendah, hal tersebut karena masih ada sejumlah orang yang beranggapan bahwa ikan bisa menjadi sarana penularan, padahal hal itu tidak benar.

"Artinya perlu mereorientasi Gemarikan dengan memasukkan klausul pentingnya menjelaskan kepada masyarakat bahwa ikan bukanlah sarana penularan virus sepanjang ditangani dengan protokol kesehatan," katanya.


Baca juga: Anggota DPR: Tingkat konsumsi ikan perlu seperti Jepang


Berkenaan dengan hal itu, ujar dia, maka yang perlu dilakukan adalah sosialisasi penerapan prokes kepada pelaku usaha perikanan dari hulu ke hilir dan konsumen.

Sebagaimana diwartakan, KKP mengajak masyarakat agar dapat memenuhi asupan protein yang dibutuhkan saat menjalani ibadah puasa pada bulan Ramadhan, termasuk dengan mengonsumsi berbagai jenis ikan.

"Tak perlu kuatir, ikan sebagai sumber protein pasokannya cukup memenuhi kebutuhan selama Ramadhan hingga lebaran 2021," kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti dalam siaran pers di Jakarta, Selasa.

Terlebih, menurut Artati Widiarti, pasokan ikan di berbagai daerah dipastikan aman dan bisa memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Ia mengungkapkan per 31 Maret 2021, KKP juga telah bersurat ke Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan berbagai daerah di seluruh Indonesia meminta untuk menggelar pasar ikan murah Ramadhan, baik secara daring maupun luring.


Baca juga: KKP gelar safari untuk tingkatkan konsumsi ikan nasional


Sebelumnya, Kepala Badan Riset dan SDM KKP Sjarief Widjaja menyatakan pelatihan pengolahan hasil perikanan di sejumlah daerah secara daring diyakini bakal melesatkan tingkat konsumsi ikan nasional.

"Inovasi olahan ikan juga sangat penting dalam peningkatan angka konsumsi ikan nasional," kata Sjarief.

KKP menargetkan tingkat konsumsi ikan sebesar 62,50 kg/kapita/tahun di tahun 2024 yang sebelumnya 56,39 kg/kapita/tahun di tahun 2020.

Untuk itu, lanjutnya, pelatihan seperti pengolahan hasil perikanan tersebut juga menjadi salah satu strategi KKP untuk mencapai target konsumsi ikan.


Baca juga: Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan harus disertai hilirisasi perikanan

Baca juga: KKP sebut pelatihan pengolahan hasil perikanan bakal lesatkan konsumsi